“Ana dapat kabar, antum jarang mandi selama di pondok, benarkah?” Tanya musyrif kepada adhonya.
“Iya ustadz…awal masuk pondok. Malas mandi di sini, cuacanya dingin.”
Musyrif melanjutkan, “Sekarang masih malas mandi?”
“Alhamdulillah, setiap hari mandi 1X.”
“Kenapa?” Musyrif penasaran. “Ana pernah merasakan tidak nyaman pada kulit, akhirnya bisa paksakan mandi 1X sehari..” respon santrinya.
“Alhamdulillah…pertahankan itu, usahakan minimal 2X mandi dalam sehari yaa..”
“In syaa Allah, ustadz..”
Mediasi
Musyrif Madyan menemui musyrif Baghdad bertanya, “Bagaimana masalah adho ana dengan adho antum sudah selesaikah?”
“Kholas…adho ana orangnya begitu suka memanfaatkan keadaan, dia minta ganti rugi 350K atas sandal Crocs-nya yang dihilangkan oleh adho antum, padahal sandalnya sudah ketemu dan harga sebenarnya hanya 170K.” Pencerahan dari Musyrif Baghdad.
“Alhamdulillah, yang penting adho antum tidak menagih minta ganti rugi kehilangan lagi yaa…” Musyrif Madyan memastikan kekhawatirannya.
“Aman…Ana sudah ingatkan adho tidak melakukan hal tersebut dan sudah mengembalikan 50K uang adho antum sebagai jaminan saat sandal itu hilang.”
“Alhamdulillah, done…syukron atas mediasinya. Semoga adho² kita diberi hikmah dengan peristiwa ini, barakallaahu fiik..”
“Waiyakum..”
Tegang
Waktu 4 bulan bagi santri kelas 7 sudah dikondisikan wajib Berbahasa Arab, membuat suasana asrama mencekam karena khawatir melanggar akibat lupa tidak berbahasa Arab.
Ketegangan kian menarik tatkala disiplin dan konsisten menggunakan Bahasa Arab menjadi prioritas utama berkomunikasi di lingkungan pondok.
Semoga gerakan pembiasaan berbahasa Arab di pesantren membahana…
Wajib Bahasa Arab
Pada awal November 2025, kebijakan baru mulai berlaku di pondok pesantren, yaitu kewajiban menggunakan bahasa Arab bagi santri kelas 7. Kebijakan ini ternyata menimbulkan reaksi panik di kalangan santri, yang merasa belum siap untuk berkomunikasi dalam Bahasa Arab. Mereka terpaksa beradaptasi dengan cepat untuk menggunakan Bahasa Arab dalam komunikasi sehari-hari.
Kondisi ini mempengaruhi sosialisasi santri di asrama mendadak sedikit hening tak banyak terdengar pembicaraan obrolan santri. Cara ini memaksa ananda mau tidak mau komunikasi menggunakan Bahasa Arab.
Semoga Allah Ta’ala mudahkan..
Ketidakpuasan
Ketidakpuasan santri berakar dari perbedaan antara harapan dan kenyataan. Sebelum mondok, mereka mungkin memiliki gambaran yang ideal tentang kehidupan di pesantren, namun setelah mengalami langsung, mereka menemukan bahwa kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Perbedaan persepsi ini dapat menyebabkan ketidakpuasan dan kesulitan adaptasi.
Peran orangtua sangat penting dalam mempersiapkan ananda untuk hidup di lingkungan pesantren. Salah satu cara yang efektif adalah dengan melakukan sosialisasi dan observasi bersama ananda ke pondok-pondok yang menjadi target. Dengan demikian, ananda dapat memahami bagaimana keseharian di pesantren dan memiliki gambaran yang lebih jelas tentang apa yang akan dihadapi.
Kesengajaan
Perlu diwaspadai bahwa beberapa santri melakukan pelanggaran dengan motif kesengajaan, bukan karena ketidaktahuan atau kesulitan adaptasi. Mereka sengaja melakukan pelanggaran untuk mencapai tujuan tertentu, seperti dikeluarkan dari pondok.
Dalam beberapa kasus, santri yang tidak betah di pondok mencari cara untuk dikeluarkan dengan melakukan pelanggaran yang lebih serius. Oleh karena itu, perlu mengantisipasi perilaku santri dengan teliti dan memberikan perhatian yang lebih kepada mereka yang menunjukkan tanda-tanda kesulitan atau ketidakpuasan.
Pelanggaran
Santri yang baru mondok senantiasa menghadapi tantangan dalam proses adaptasi. Awalnya, mereka mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan teman-teman baru. Selanjutnya, mereka harus menyesuaikan diri dengan kegiatan keseharian yang padat dan ritme belajar yang intensif, yang dapat membuat mereka merasa kewalahan.
Jika tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik, santri akan mengalami kejenuhan dan frustrasi. Hal ini dapat menyebabkan mereka melakukan pelanggaran, baik karena kelalaian maupun kesengajaan. Oleh karena itu, penting bagi santri untuk memiliki strategi adaptasi yang efektif dan dukungan yang memadai dari orangtua.
Ritual
Selepas liburan, kembali ke pondok pesantren seringkali diwarnai dengan ritual perpisahan yang menyedihkan, terutama ketika ananda harus kembali ke asrama dan meninggalkan keluarga. Suasana hati yang sedih dan kesedihan yang mendalam mengusik hati ananda, karena tidak ingin berpisah dengan orangtua yang dicintai.
Bagi ananda, pondok pesantren terasa seperti penjara yang memisahkan dari keluarga dan kebebasan. Ananda ingin selalu dekat dengan kedua orangtua dan menikmati waktu bersama, bukan harus kembali ke asrama dan menjalani rutinitas yang ketat.
Kurus
Senin, 27 Oktober 2025 santri berdatangan kembali ke pondok setelah izin luar kota selama seleksi penerimaan santri baru.
Musyrif menanyakan kepada ananda perihal curhatan via wa kemarin, “Antum selama di pondok nampak kurus, apa tidak cocok dengan makanan math’am?” Spontan santri tersebut menjawab, “Alhamdulillah, ana sehari makan 3X di math’am. Apa mungkin ana kurang ngemil yaa…?” Ustadz melanjutkan, “Antum ngemilnya makan berat, susu…” santri membalas dengan anggukan kepala.
Ustadz tanya lagi, “Apakah antum merasa dibully? Hingga tertekan kurang nafsu makannya?” Santri itu jawab, “Tak ada yang bully ana ustadz..”
Ustadz jadi heran, “Apa penyebab antum kurus yaa..?”
Wallaahu’alam…
Takutnya
“Afwan mengganggu waktunya tadz..” wa dari walsan, “Saya minta tolong diselidiki lagi, apakah ananda betul² tidak mendapat pembullyan dari teman²nya…karena saya takutnya ananda kurus bukan kurang makanan aja, tapi karena tertekan tadz… Selama di rumah ngobrol² sepertinya masih ada banyak hal yang dia tutup²i…kadang ada beberapa hal yang dia nggak sengaja cerita. Akhirnya ketahuan ternyata ada temannya yang nyebarin bubuk susu di kasurnya tadz…Ada juga yang pernah nampar ananda (bilangnya dia membalas juga) saya tanya, ‘katanya sekarang udah tidak nampar lagi…’, tapi saya takutnya ananda nutup²i supaya saya tidak kepikiran…Saya juga dapat cerita dari sepupu yang punya teman rois juga…dia cerita katanya ada anak kelas 7 yang kasihan banget dibully teman²nya terus…jadi saya kaitkan sama cerita ananda…saya takut kalau² ananda benar² sering dibully…setiap ketemu ortu atau pas liburan mau kembali ke pondok seperti merasa beban sekali lalu nangis…selalu ngomongnya mau sama umi-abi aja…Saya juga berusaha bertanya kepada ananda apakah teman²nya seperti itu karena mungkin kurang pandai bersosialisasi sehingga tidak disukai teman²nya atau memang anak²nya yang suka mengintimidasi anak² seperti ananda. Tolong sekali tadz…saya sangat khawatir dengan kondisi ananda jadi beban kalau di-tanya² tentang pondok dan teman²nya tadz..”
Ustadz menjawab: “In syaa Allah..”
