Pelanggaran

Santri yang baru mondok senantiasa menghadapi tantangan dalam proses adaptasi. Awalnya, mereka mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan teman-teman baru. Selanjutnya, mereka harus menyesuaikan diri dengan kegiatan keseharian yang padat dan ritme belajar yang intensif, yang dapat membuat mereka merasa kewalahan.

Jika tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik, santri akan mengalami kejenuhan dan frustrasi. Hal ini dapat menyebabkan mereka melakukan pelanggaran, baik karena kelalaian maupun kesengajaan. Oleh karena itu, penting bagi santri untuk memiliki strategi adaptasi yang efektif dan dukungan yang memadai dari orangtua.

Ritual

Selepas liburan, kembali ke pondok pesantren seringkali diwarnai dengan ritual perpisahan yang menyedihkan, terutama ketika ananda harus kembali ke asrama dan meninggalkan keluarga. Suasana hati yang sedih dan kesedihan yang mendalam mengusik hati ananda, karena tidak ingin berpisah dengan orangtua yang dicintai.

Bagi ananda, pondok pesantren terasa seperti penjara yang memisahkan dari keluarga dan kebebasan. Ananda ingin selalu dekat dengan kedua orangtua dan menikmati waktu bersama, bukan harus kembali ke asrama dan menjalani rutinitas yang ketat.

Kurus

Senin, 27 Oktober 2025 santri berdatangan kembali ke pondok setelah izin luar kota selama seleksi penerimaan santri baru.

Musyrif menanyakan kepada ananda perihal curhatan via wa kemarin, “Antum selama di pondok nampak kurus, apa tidak cocok dengan makanan math’am?” Spontan santri tersebut menjawab, “Alhamdulillah, ana sehari makan 3X di math’am. Apa mungkin ana kurang ngemil yaa…?” Ustadz melanjutkan, “Antum ngemilnya makan berat, susu…” santri membalas dengan anggukan kepala.

Ustadz tanya lagi, “Apakah antum merasa dibully? Hingga tertekan kurang nafsu makannya?” Santri itu jawab, “Tak ada yang bully ana ustadz..”

Ustadz jadi heran, “Apa penyebab antum kurus yaa..?”

Wallaahu’alam…

Takutnya

“Afwan mengganggu waktunya tadz..” wa dari walsan, “Saya minta tolong diselidiki lagi, apakah ananda betul² tidak mendapat pembullyan dari teman²nya…karena saya takutnya ananda kurus bukan kurang makanan aja, tapi karena tertekan tadz… Selama di rumah ngobrol² sepertinya masih ada banyak hal yang dia tutup²i…kadang ada beberapa hal yang dia nggak sengaja cerita. Akhirnya ketahuan ternyata ada temannya yang nyebarin bubuk susu di kasurnya tadz…Ada juga yang pernah nampar ananda (bilangnya dia membalas juga) saya tanya, ‘katanya sekarang udah tidak nampar lagi…’, tapi saya takutnya ananda nutup²i supaya saya tidak kepikiran…Saya juga dapat cerita dari sepupu yang punya teman rois juga…dia cerita katanya ada anak kelas 7 yang kasihan banget dibully teman²nya terus…jadi saya kaitkan sama cerita ananda…saya takut kalau² ananda benar² sering dibully…setiap ketemu ortu atau pas liburan mau kembali ke pondok seperti merasa beban sekali lalu nangis…selalu ngomongnya mau sama umi-abi aja…Saya juga berusaha bertanya kepada ananda apakah teman²nya seperti itu karena mungkin kurang pandai bersosialisasi sehingga tidak disukai teman²nya atau memang anak²nya yang suka mengintimidasi anak² seperti ananda.  Tolong sekali tadz…saya sangat khawatir dengan kondisi ananda jadi beban kalau di-tanya² tentang pondok dan teman²nya tadz..”

Ustadz menjawab: “In syaa Allah..”

Pasrah

Menerima kenyataan bahwa ananda kurang berhasil beradaptasi belajar di pesantren secara akademis terasa pahit dan getir, terutama jika harapan orangtua terlalu tinggi. Namun, penting untuk diingat bahwa ananda tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan ini.

Biasanya, ananda akan pasrah dan menerima ketidakmampuannya, namun harus bantu mereka untuk tawakal dan menerima bahwa setiap anak memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda-beda.
Mari dukung ananda untuk menerima dirinya sendiri dan mencari solusi yang lebih baik, bukan hanya fokus pada hasil akademis semata.

Instan

Sebagai orangtua harus memiliki harapan yang realistis ketika menitipkan ananda di pesantren. Jangan berharap bahwa pesantren dapat secara otomatis merubah akhlak ananda menjadi lebih baik, karena itu adalah salah besar. Pesantren bukanlah tempat laundry yang dapat membersihkan akhlak seseorang dari kesalahan dan kelemahan.

Pesantren dapat membantu ananda dalam proses belajar dan pengembangan diri, namun perubahan akhlak dan karakter harus dimulai dari diri sendiri dan didukung oleh lingkungan keluarga yang positif. Orangtua harus tetap terlibat dan mendukung proses pengasuhan ananda, bukan hanya menitipkan di pesantren dan berharap hasil yang instan.

Cerah

Keluar dari sekolah dan pindah ke sekolah lain bukanlah pilihan yang mudah, karena akan meninggalkan kenangan dan pengalaman yang tak mudah dilupakan. Namun, jika memang tidak sesuai dengan kemampuan dan minat, maka lebih baik jujur pada diri sendiri dan mencari alternatif yang lebih baik.

Jangan buang-buang energi dan waktu dengan memaksakan diri di sekolah yang tidak sesuai, karena ini hanya akan menghambat masa depan. Lebih baik mengakui kenyataan dan mencari solusi yang lebih baik, sehingga dapat mencapai potensi yang sebenarnya dan memiliki masa depan yang lebih cerah.

Jalan keluar

Jika ananda telah berusaha belajar dengan maksimal namun masih belum mencapai nilai minimal KKM, maka sudah waktunya untuk mencari solusi sekolah yang lebih sesuai dengan kemampuannya. Jangan memaksakan diri untuk tetap berada di sekolah yang tidak sesuai, karena hal ini hanya akan menyebabkan frustrasi dan berdampak negatif pada psikisnya.

Dengan mencari sekolah yang lebih sesuai, ananda dapat memiliki kesempatan untuk belajar dengan lebih efektif dan mencapai potensi yang sebenarnya. Jangan ragu untuk mencari bantuan dan solusi yang lebih baik, karena ini adalah langkah yang bijak untuk masa depan ananda.

Remidi

Fenomena santri banyak remidi menunjukkan bahwa mereka rentan mengalami kesulitan dalam akademis. Mengatasi hal ini, upaya maksimal harus dikerahkan demi mencapai ketuntasan nilai. Salah satu cara yang efektif adalah menemukan teman belajar yang dapat memahami kesulitan belajarnya. Dengan demikian, mereka dapat saling membantu dan meningkatkan kemampuan belajar.

Selain itu, penting juga mengenali titik lemah belajar, sehingga dapat belajar secara efektif dan efisien. Dengan mengetahui kelemahan dan kekuatan belajarnya, santri dapat mengatur strategi belajar yang tepat dan mencapai tujuan akademisnya.

Giat belajar

Menuntut ilmu di pondok pesantren memerlukan daya tahan belajar yang tinggi dan konsisten, karena jumlah pelajarannya yang banyak dan disampaikan dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, santri harus memiliki kemampuan untuk mengatur waktu dan fokus belajar dengan baik, agar dapat mengikuti pelajaran dengan efektif dan mencapai tujuan belajarnya.

Semoga Allah Ta’ala mudahkan ananda belajar di Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran…