Arogansi

Arogansi adalah orang yang cenderung memiliki sikap sombong/congkak/angkuh, merasa dirinya lebih unggul dalam berbagai hal dan memperlakukan orang lain dengan tidak hormat atau merendahkan.

Misalkan berpapasan tak sengaja menyenggol seseorang, “Ente jalan lihat ke depan jangan pakai mata kaki..” mendengar tersebut respon jawabnya nampak kesal, “Tidak sengaja..” jawaban rada tersinggung.

“Diberitahu malah nyolot…awas yaa..”

Sekilas contoh perbincangan yang arogansi dalam keseharian. Bagaimana perbincangan yang seharusnya, yang benar? Silahkan renungkan masing² apakah anda memiliki sikap yang arogansi atau tidak yaa…

Gestur

Kita seringkali lupa untuk memperhatikan gestur tubuh sendiri, yang dapat disalah-artikan oleh orang lain sebagai sikap sombong atau arogan. Sebenarnya, kita hanya fokus pada penampilan fisik, seperti wajah, gaya rambut, dan pakaian. Gestur tubuh yang salah dapat membuat kita terlihat tidak ramah atau tidak sopan, padahal itu hanya karena kebiasaan sehari-hari.

Mari belajar untuk tidak menilai orang lain berdasarkan gestur tubuhnya saja. Lebih baik kita melihat ke dalam, yaitu budi pekerti dan akhlaknya. Dengan demikian, kita dapat membangun hubungan yang lebih baik dan harmonis dengan sesama. Kheir in syaa Allah…

Rancu

Berita tentang dugaan pembullyan oleh rois kelas 9 terhadap adik kelasnya telah membuat heboh di kalangan walsan kelas 7. Kabar itu menyebutkan bahwa korban dibawa ke rumah sakit untuk menjalani CT Scan. Namun, setelah diselidiki, ternyata penanganan CT Scan tersebut sebenarnya dilakukan terhadap santri kelas 8 yang telah sakit sejak kepulangan liburan PSB. Santri tersebut mengeluhkan badannya yang lemas akibat penurunan daya tahan tubuh, sehingga sebelum berangkat ke pondok, ia telah berkonsultasi dengan dokter di sekitar rumahnya untuk mendapatkan pengobatan.

Berita yang tak ada korelasi ini merebak luas campur aduk kian rancu. Alhamdulillah…benang kusut dari berita itu terurai dengan meletakkan sesuai porsi masalahnya masing². Allah musta’an…Segala puji bagi Allah yang telah membantu memisahkan fakta dari fiksi.

Bau

Ternyata kasus santri malas mandi di pondok beragam motifnya. Salah satunya musyrif menanyakan kepada adhonya, “Ana perhatikan antum suka diledek bau..tidak mandi, kenapa malas mandi?” Jawabnya: “Ana badannya tidak kuat kena air dingin jadi mandinya sekedar dilap saja.”

Musyrif melanjutkan tanya, “Apa antum di rumah suka mandi menggunakan air panas?” Jawabnya: “Tidak ustadz…abi ana yang mandi pakai air panas.”

“Berarti selama di pondok jarang mandi yaa..?” Musyrif heran menanti jawabannya, “Ana mandi kalau mau saja, saat badan siap kena air..”

“Antum terima diledek bau badan?” Jawabnya: “Udah terbiasa diledek seperti itu…padahal badan ana tidak bau.” Sambil mencium mengendus baju yang dikenakan.

Mandi

Ana dapat kabar, antum jarang mandi selama di pondok, benarkah?” Tanya musyrif kepada adhonya.
“Iya ustadz…awal masuk pondok. Malas mandi di sini, cuacanya dingin.”
Musyrif melanjutkan, “Sekarang masih malas mandi?”
Alhamdulillah, setiap hari mandi 1X.”
“Kenapa?” Musyrif penasaran. “Ana pernah merasakan tidak nyaman pada kulit, akhirnya bisa paksakan mandi 1X sehari..” respon santrinya.
Alhamdulillah…pertahankan itu, usahakan minimal 2X mandi dalam sehari yaa..”
In syaa Allah, ustadz..”

Mediasi

Musyrif Madyan menemui musyrif Baghdad bertanya, “Bagaimana masalah adho ana dengan adho antum sudah selesaikah?”

Kholasadho ana orangnya begitu suka memanfaatkan keadaan, dia minta ganti rugi 350K atas sandal Crocs-nya yang dihilangkan oleh adho antum, padahal sandalnya sudah ketemu dan harga sebenarnya hanya 170K.” Pencerahan dari Musyrif Baghdad.

“Alhamdulillah, yang penting adho antum tidak menagih minta ganti rugi kehilangan lagi yaa…” Musyrif Madyan memastikan kekhawatirannya.

“Aman…Ana sudah ingatkan adho tidak melakukan hal tersebut dan sudah mengembalikan 50K uang adho antum sebagai jaminan saat sandal itu hilang.”

“Alhamdulillah, donesyukron atas mediasinya. Semoga adho² kita diberi hikmah dengan peristiwa ini, barakallaahu fiik..”

Waiyakum..”

Tegang

Waktu 4 bulan bagi santri kelas 7 sudah dikondisikan wajib Berbahasa Arab, membuat suasana asrama mencekam karena khawatir melanggar akibat lupa tidak berbahasa Arab.

Ketegangan kian menarik tatkala disiplin dan konsisten menggunakan Bahasa Arab menjadi prioritas utama berkomunikasi di lingkungan pondok.

Semoga gerakan pembiasaan berbahasa Arab di pesantren membahana…

Wajib Bahasa Arab

Pada awal November 2025, kebijakan baru mulai berlaku di pondok pesantren, yaitu kewajiban menggunakan bahasa Arab bagi santri kelas 7. Kebijakan ini ternyata menimbulkan reaksi panik di kalangan santri, yang merasa belum siap untuk berkomunikasi dalam Bahasa Arab. Mereka terpaksa beradaptasi dengan cepat untuk menggunakan Bahasa Arab dalam komunikasi sehari-hari.

Kondisi ini mempengaruhi sosialisasi santri di asrama mendadak sedikit hening tak banyak terdengar pembicaraan obrolan santri. Cara ini memaksa ananda mau tidak mau komunikasi menggunakan Bahasa Arab.

Semoga Allah Ta’ala mudahkan..

Ketidakpuasan

Ketidakpuasan santri berakar dari perbedaan antara harapan dan kenyataan. Sebelum mondok, mereka mungkin memiliki gambaran yang ideal tentang kehidupan di pesantren, namun setelah mengalami langsung, mereka menemukan bahwa kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Perbedaan persepsi ini dapat menyebabkan ketidakpuasan dan kesulitan adaptasi.

Peran orangtua sangat penting dalam mempersiapkan ananda untuk hidup di lingkungan pesantren. Salah satu cara yang efektif adalah dengan melakukan sosialisasi dan observasi bersama ananda ke pondok-pondok yang menjadi target. Dengan demikian, ananda dapat memahami bagaimana keseharian di pesantren dan memiliki gambaran yang lebih jelas tentang apa yang akan dihadapi.

Kesengajaan

Perlu diwaspadai bahwa beberapa santri melakukan pelanggaran dengan motif kesengajaan, bukan karena ketidaktahuan atau kesulitan adaptasi. Mereka sengaja melakukan pelanggaran untuk mencapai tujuan tertentu, seperti dikeluarkan dari pondok.

Dalam beberapa kasus, santri yang tidak betah di pondok mencari cara untuk dikeluarkan dengan melakukan pelanggaran yang lebih serius. Oleh karena itu, perlu mengantisipasi perilaku santri dengan teliti dan memberikan perhatian yang lebih kepada mereka yang menunjukkan tanda-tanda kesulitan atau ketidakpuasan.