
Puasaku Untuk-Mu
Kacamatanya menulis pendidikan pengasuhan berbasis fitrah dan diselingi ananda yang gemar berpuisi

Puasaku Untuk-Mu

Harga normal Rp. 50.000,-
Promo hingga 28 Februari 2021 harganya Rp. 45.000,- hubungi Hp: 08128875747 belum termasuk ongkir yaa

Harga buku Rp. 45.000,- belum termasuk ongkir
Pesan buku ke no Hp: 08128875747

Setiap orang memiliki kisah cerita perjalanan hidupnya yang ingin berbagi dengan generasi penerus. Alangkah indah dijadikan buku sebagai kisah untuk dikenang.
Tulis ceritamu…kami bukukan
Pepatah mengatakan, apalah artinya sebuah nama? Ucapan William Shakespeare: “what’s in a name?” dalam novelnya Romeo and Juliet ini merupakan sebuah harapan dan doa, tidak sembarang memberikan nama, sekadar label yang menempel pada sesuatu. Nama perlu diisi dengan harapan, berupa kesan-kesan baik dari seluruh sivitas akademika dan memohon kepada Allah agar selalu menjaga nama baik almamater.
Bekerja di pesantren tidak semata mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup, terdapat nilai-nilai luhur yakni sebuah pengabdian. Mendidik, membimbing, dan mendampingi penuntut ilmu meraih hidayah dan maghfirah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Cita-cita yang tulus mencerminkan budaya lingkungan pondok dengan menciptakan karakter sivitas akademika.
Akhlak terpuji menjadi impian yang tertanam di dalam hati penuntut ilmu sebagai bagian dari membangun kader-kader da’i yang dapat melanjutkan estafet siar dakwah ke pelosok negeri. Tentunya tidak semua lulusan akan menjadi pendakwah, tetapi akan mengemban nama baik almamater pesantren.
Penting untuk diingat, bahwasanya mereka yang telah selesai belajar di pondok tetap harus menjunjung nama baik pesantren di mana pun berada. Profesi yang ditekuni di masa mendatang bukan menjadi halangan untuk siar dakwah. Budi pekerti adalah sikap yang dapat menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya.
Pesantren adalah lembaga pendidikan pengasuhan yang mengutamakan pendidikan budi pekerti yang luhur sesuai tuntunan syariat Islam yang identik dengan kepribadian Nabi Muhammad Shalallaahu’alaihi wa sallam.
Lembaga pendidikan pesantren memiliki visi yang spesifik sesuai arah tujuan dari pengelolaan organisasi. Visi itu termasuk pencitraan nama baik almamater yang senantiasa dijaga oleh akademika lembaga pendidikan. Persepsi yang dibangun menjadi tanggung jawab seluruh komunitas yang ikut andil dalam organisasi. Bukan hanya milik pimpinan pesantren.
Perilaku organisasi harus mewujudkan misi yang tertuang dalam realisasi terciptanya visi yang diinginkan sebagai pembentukan citra sebuah lembaga pendidikan pengasuhan. Peranan setiap orang yang terkait secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi image yang ingin diciptakan.
Dari proses ananda mondok di pesantren yang menentukan adalah bagaimana orangtua dalam mengkondisikan ananda ketika masih di rumah dengan menumbuhkan hasrat ananda mondok di pesantren merefleksikan semangat juang meraih keberhasilan belajarnya.
Lika-liku santri zaman now menjadi tantangan mereka harus siap mengeksplorasi perkembangan informasi tanpa gagap teknologi, mahir mensiasati dunia maya sebagai ajang siar dakwah. Tidak khawatir mau jadi apa setelah selesai mondok di pesantren, apabila kurang layak menjadi ustadz masih banyak tempat untuk berdakwah dengan cara masing-masing sesuai kemampuannya.
Tak ada kata penyesalan, yang ada hanya ucap syukur karena ananda telah mencoba bersedia mondok di pesantren menjadi santri. Ilmu agama sangat penting, lebih utama dari ilmu-ilmu lainnya sebagai modal yang akan tertanam dalam hati menopang beban kehidupan di masa mendatang. Upaya mendekatkan takdir sudah, saatnya buka lembaran baru peluang minat dan bakat dari hasrat ananda cenderung memilih prospek yang menjadi passion-nya.
Welcome to Pesantren dari kacamata Nana Sujana, mengajak revolusi mengembalikan popularitas buku di zaman now, dengan mengkoleksi buku ini.
Semoga keberadaan buku kembali menjadi primadona di dunia maya era digital.
Sudah sebulan lebih polemik pandemic wabah Corona Covid 19 membelenggu kita untuk tetap bertahan tidak keluar rumah. Sampai kapan ini berakhir? Belum nampak tanda-tanda skenario Tuhan terhadap seluruh mahluk di muka bumi. Padahal dunia sudah panik serempak melakukan lock down. Kita patuh mengikuti anjuran pemerintah pusat dan daerah hingga aparat desa memblok 1 pintu masuk ke kampungnya.
Kami sekeluarga menyingkapinya dengan sederhana, saling berbagi pekerjaan rumah, membaca buku yang belum selesai dibaca, membuat narasi simpulan hasil membaca, mencoba menulis, diskusi ringan hal-hal yang menarik di lingkungan sekitar, dan bercengkrama dalam kebersamaan.
Kita tak pernah sempat menduga sebelumnya, bencana yang terjadi saat ini, sangat dramatis. Sepertinya hanya satu hikmah dibalik musibah ini adalah indahnya dalam kebersamaan.
Aku teringat dahulu pernah ayah temanku semasa SMA menyampaikan kepada anak-anaknya, “Ayah ingin Mas Nana menjadi menantu Ayah.” Semua yang mendengar saling beradu pandang, seperti sebuah pertanyaan baru saja hadir di telinga kedua adik temanku itu, “Siapa yang mencintai Mas Nana?”
“Mas Nana memang bukan orang Jawa, tetapi sikapnya seperti orang Jawa. Ayah ingin Diah atau Dini menentukan pilihan ini.” Pertanyaan yang menjadi Pe-eR lama, tak bisa langsung dijawab oleh kedua anak gadisnya. Aku pun ikut diberitahu oleh temanku, maksud keinginan ayahnya.
Masih terlalu dini membicarakan perjodohan itu, aku hanya tertunduk malu harus pilih yang mana. Bingung tak tahu mana yang harus dipilih. Keduanya cantik di mataku. Begitu sempurna.
Aku hanyut dalam kenangan, saat menghadiri pernikahan Agung dan Dini yang bisa aku hadiri bersama istriku di sebuah gedung resepsi pernikahan. Ketika aku menaiki panggung pengantin untuk mengucapkan salam ‘selamat menempuh hidup baru.’ Ayahnya Dini memelukku dan berbisik menyampaikan sesuatu kepadaku, “Kamu tidak menjadi menantuku, karena kamu memilih mertua yang lebih kaya dariku.” Sambil menepuk pundakku.