Charge n Sinyal

Hp sebagai alat komunikasi dengan sesama manusia, membutuhkan ketahanan batere agar dapat digunakan dalam waktu yang lama, dan juga perlu sinyal yang kuat untuk mempertahankan percakapannya.  Tidak jauh berbeda ketika seorang hamba berkomunikasi dengan Sang Maha Pencipta, hatinya perlu dicharges dengan siraman rohani berupa: mendengarkan kajian agama, siar dakwah, menghadiri majelis taklim, dan sebagainya, untuk mempertahankan keyakinan.  Sedangkan sinyal yang kuat dapat ditemukan pada waktu doa yang bermunajab, misalnya sepertiga malam terakhir, sebelum iqamah dikumandangkan, dan seterusnya.

Ibarat telepon, perasaan seorang hamba harus terhubung ke sumber spiritual dengan senantiasa mencharge batere keimanannya, dan harus menjaga agar sinyal yang diterima selalu kuat setiap saat dengan berdoa di waktu munajab.

Agama

Agama itu pengetahuan yang mengandung nilai spiritual.  Orang yang beragama adalah identik dengan orang baik, karena mengajarkan norma-norma pedoman hidup antar sesama mahluk dan penghambaan diri kepada Sang Maha Pencipta.

Ketika seseorang melakukan kesalahan (bermaksiat), berarti pengetahuan agamanya belum sampai diterima, bisa jadi ilmunya hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, karena sering melupakan apa yang diketahuinya, tanpa pengalaman spiritual.  Mengetahui adalah proses intelektual, sedangkan menyadari adalah proses spiritual.

Ilmu agama butuh diamalkan dan dipraktekkan agar bernilai ibadah di hadapan Sang Maha Pencipta, sekaligus sebagai wujud kesadaran spiritualnya.

Perantauan

Manusia di dunia tergambarkan seperti seorang sedang merantau, mencari tempat lingkungan yang nyaman, aman, dan tentram.  Nyaman itu jiwanya yang tenang, aman itu raganya yang aman dilindungi, dan tentram itu terpenuhi kebutuhan hidupnya.

Selagi seseorang itu terusik kenyamanannya, keamanannya, dan ketentramannya, maka ia akan segera merantau kembali mencarì tempat yang nyaman, aman, dan tentram.  Begitulah siklus kehidupan manusia dalam perantauan.  Selalu mengupayakan solusi lingkungan yang terbaik di suatu negeri bagi dirinya sekeluarga.

Ketika sekali waktu menoleh ke belakang, terdapat tapak tilas yang pernah dilalui yang tertinggal bisa dimanfaatkan anak keturunan.

Lentera

Lilin-lilin kecil, berpijar dalam gulita, menerangi mayapada, dengan cahayamu yang lemah itu, ternyata tidak mampu, menerangi jiwa-jiwa yang rapuh.

Lilin membeku dalam halimun biru, terbawa akan sirnamu.

Kau lilin yang kecil, berpijarlah terus, terangilah jalan hidup di depanku, bimbinglah aku ke masa depan yang penuh harapan.

Lilin adalah sosok kawula muda, dengan semangat mengobarkan cahaya lentera di kegelapan, menerjang dahsyatnya kehidupan dunia.  Kelak lilin akan menjadi obor di kemudian hari.

Antara Sayang dan Dimanjakan

Anak muda generasi milenial saat ini, tak setangguh pemuda-pemudi di zaman orangtuanya dahulu.  Mereka cenderung lebih pintar, tidak gagap teknologi, selalu update informasi medsos, dan canggih menyingkapi problematika di zaman now.  Tetapi kurang memiliki spirit kemandirian diri dalam kenyataan hidup.  Nampak dewasa secara pengetahuan, dan jauh tertinggal dari segi mental spiritualnya.  Cenderung diberi lebih perhatian dalam bentuk sentuhan kasih sayang sehingga terasa dimanjakan ayah bunda, kemudian tidak menjadi petarung sejati di kehidupan nyata.

Renungkan kembali, apa yang sudah tertanam dalam nilai pengasuhan ananda dalam kesehariannya.  Sesuaikah dengan target harapan orangtua? Kesiapan menjalani hidup setelah orangtua wafat? Mampukah mereka menjalin tali kasih dengan kerabat dekatnya? Pelihara rasa sepenanggungan?

Banyak pertanyaan yang semuanya tentang kekhawatiran akan ketidak-sanggupan ananda di dunia nyata.
Sebelum terlambat, pastikan ananda faham fitrah dalam dirinya.  Berikan kepercayaan menghadapi tantangan hidup di akhir zaman yang penuh dengan fitnah.  Tegar menjalani cobaan yang menghadang.  Tak perlu takut atau cemas menyingkapi permasalahan hidup.  Tegakkan kebenaran dan raih keadilan di dunia.  Yakinlah, Allah Azza wa Jalla selalu bersama orang yang sabar dan tawakal.

Syaban

Bahwasanya Syaban adalah bulan diangkatnya amal shalih kepada Allah, kemudian setelah itu Allah menerima di antara amal shalih yang kita kerjakan tersebut, yang Allah kehendaki.
Bulan ini berada di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan.  Bulan Rajab termasuk bulan haram, di mana seseorang diutamakan mengerjakan amal-amal shalih di bulan haram.  Sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan mulia dan bulan yang paling afdal, di dalamnya manusia banyak sibuk menunaikan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.  Makanya di bulan Syaban banyak manusia yang lalai dari amal shalih.  Menunjukkan tentang keutamaan beribadah di waktu fitnah.

Hikmah di saat manusia dalam keadaan lalai menjadikan keutamaan memperbanyak shalat malam, karena sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam.  Rasulullah perbanyak puasa dan terus membaca Alquran di bulan Syaban.
Apabila amal shalih tersebut ikhlas sesuai sunnah akan diterima Allah, akan tetapi jika tidak terpenuhi syaratnya, maka tidak diterima oleh Allah Azza wa Jalla.

Syarat amalnya diterima Allah adalah: Ikhlas untuk Allah dan sesuai dengan sunnah Rasulullah.

Krisis Buku

Dahulu kami sekeluarga setiap pekan tamasya ke toko buku, sekedar baca buku atau mencari kesenangan gali cakrawala pengetahuan, menambah wawasan dari aneka buku yang dibaca, dan sekarang lambat laun terasa jauh dari toko buku, semenjak segala sesuatu lebih mudah menanyakan ke Mbah Google, bagaimana misalkan mulai tahun depan 2021 penyelenggaraan UN ditiadakan, otomatis buku-buku yang bertemakan seleksi ketuntasan UN akan serempak ditarik dari peredaran toko buku dan akan semakin longgar koleksinya, kasihan nasib toko buku yang masih bertahan, mungkinkah mengalami gulung tikar?

Krisis buku tercipta disebabkan perkembangan teknologi informasi digital yang semakin mudah dicari melesat meninggalkan peradaban kertas yang semakin ketinggalan zaman.  Bagaimana nasib para penulis buku, akankah sanggup menghadapi era digital ini? Walaupun beberapa penulis beralih menulis buku indie untuk memenuhi kebutuhan di kalangan komunitasnya.

Tetaplah semangat menulis, walau diterjang badai.  Ingatlah selalu semboyan Tut Wuri Handayani.

Corona

Semua orang heboh dengan Wabah Corona.  Jejaring media sosial membom-bardir mengejar berita Virus Covid 19.  Sudah sebulan jenuh juga baca atau mendengar berita update Corona via televisi, radio dan dari penjuru grup whatsApp berbagai versi.  Nampak simpang siur baur jadi satu kesatuan yang saling mengisi kebenarannya.  Hingga ruang gerak masyarakat dibatasi untuk tidak melakukan bepergian ke tempat-tempat kerumunan guna mengantisipasi penyebaran virus tersebut.

Aku memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan kualitas kebersamaan dengan keluarga, bercengkrama, mengisi waktu luang dengan ide-ide sederhana seperti berbagi tugas pekerjaan rumah, baca buku, menulis, diskusi ringan, semuanya begitu indah dalam kebersamaan.

Hikmah dibalik Wabah Corona yang meluas hingga ke seluruh negeri, mengandung skenario Tuhan kepada mahluknya agar senantiasa memperbaiki amal ibadah dalam koridor keikhlasan dan ketulusannya semata-mata untuk Sang Pencipta Allah Ta’ala.

Nestapa

Bisa dikatakan kebanyakan manusia yang hidup di akhir zaman ini hidupnya susah, mengapa demikian? Karena penyebabnya adalah saling berlomba-lomba dalam memenuhi gaya hidupnya, yang membedakan diantara mereka hanyalah besarnya kadar nestapa dari masing-masing insan.

Makanya sulit memperbaiki tanpa kesadaran diri sendiri untuk melihat kapasitas orang yang berada di bawahnya.  Selalu ingin memuaskan gaya hidup yang diimpikan.  Cenderung orang lain nampak hebat di matanya.

Jangan banding-bandingkan hidup manusia yang sudah terukir dalam takdir Tuhan.  Percayalah bahwasanya nestapa itu bagian dari cara Tuhan menguji keimanan mahluknya.

Tutup yang Kosong

Pastikan keberadaan diri itu bermanfaat untuk sekitar, dengan mengambil peran yang orang lain enggan melakukannya.  Setiap melihat celah yang rusak atau berlubang segera tutup agar nampak sempurna.  Misal yang sehari-hari mudah ditemukan seperti sampah atau benda tajam yang tergeletak di jalan, sebelum memakan korban atau kurang enak dilihat segera ambil lalu disingkirkan.

Begitu juga dalam suatu kegiatan, seringkali orang hanya menjadi tokoh yang dilakoninya, jarang yang mengamati di mana terdapat kekurangan di situlah dia menutup yang kosong dengan inisiatif melengkapi potensi berdaya guna.

Bagaikan tutup botol, yang bentuknya kecil tapi berfungsi menghindari kebocoran besar.