Krisis Buku

Dahulu kami sekeluarga setiap pekan tamasya ke toko buku, sekedar baca buku atau mencari kesenangan gali cakrawala pengetahuan, menambah wawasan dari aneka buku yang dibaca, dan sekarang lambat laun terasa jauh dari toko buku, semenjak segala sesuatu lebih mudah menanyakan ke Mbah Google, bagaimana misalkan mulai tahun depan 2021 penyelenggaraan UN ditiadakan, otomatis buku-buku yang bertemakan seleksi ketuntasan UN akan serempak ditarik dari peredaran toko buku dan akan semakin longgar koleksinya, kasihan nasib toko buku yang masih bertahan, mungkinkah mengalami gulung tikar?

Krisis buku tercipta disebabkan perkembangan teknologi informasi digital yang semakin mudah dicari melesat meninggalkan peradaban kertas yang semakin ketinggalan zaman.  Bagaimana nasib para penulis buku, akankah sanggup menghadapi era digital ini? Walaupun beberapa penulis beralih menulis buku indie untuk memenuhi kebutuhan di kalangan komunitasnya.

Tetaplah semangat menulis, walau diterjang badai.  Ingatlah selalu semboyan Tut Wuri Handayani.

Corona

Semua orang heboh dengan Wabah Corona.  Jejaring media sosial membom-bardir mengejar berita Virus Covid 19.  Sudah sebulan jenuh juga baca atau mendengar berita update Corona via televisi, radio dan dari penjuru grup whatsApp berbagai versi.  Nampak simpang siur baur jadi satu kesatuan yang saling mengisi kebenarannya.  Hingga ruang gerak masyarakat dibatasi untuk tidak melakukan bepergian ke tempat-tempat kerumunan guna mengantisipasi penyebaran virus tersebut.

Aku memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan kualitas kebersamaan dengan keluarga, bercengkrama, mengisi waktu luang dengan ide-ide sederhana seperti berbagi tugas pekerjaan rumah, baca buku, menulis, diskusi ringan, semuanya begitu indah dalam kebersamaan.

Hikmah dibalik Wabah Corona yang meluas hingga ke seluruh negeri, mengandung skenario Tuhan kepada mahluknya agar senantiasa memperbaiki amal ibadah dalam koridor keikhlasan dan ketulusannya semata-mata untuk Sang Pencipta Allah Ta’ala.

Nestapa

Bisa dikatakan kebanyakan manusia yang hidup di akhir zaman ini hidupnya susah, mengapa demikian? Karena penyebabnya adalah saling berlomba-lomba dalam memenuhi gaya hidupnya, yang membedakan diantara mereka hanyalah besarnya kadar nestapa dari masing-masing insan.

Makanya sulit memperbaiki tanpa kesadaran diri sendiri untuk melihat kapasitas orang yang berada di bawahnya.  Selalu ingin memuaskan gaya hidup yang diimpikan.  Cenderung orang lain nampak hebat di matanya.

Jangan banding-bandingkan hidup manusia yang sudah terukir dalam takdir Tuhan.  Percayalah bahwasanya nestapa itu bagian dari cara Tuhan menguji keimanan mahluknya.

Tutup yang Kosong

Pastikan keberadaan diri itu bermanfaat untuk sekitar, dengan mengambil peran yang orang lain enggan melakukannya.  Setiap melihat celah yang rusak atau berlubang segera tutup agar nampak sempurna.  Misal yang sehari-hari mudah ditemukan seperti sampah atau benda tajam yang tergeletak di jalan, sebelum memakan korban atau kurang enak dilihat segera ambil lalu disingkirkan.

Begitu juga dalam suatu kegiatan, seringkali orang hanya menjadi tokoh yang dilakoninya, jarang yang mengamati di mana terdapat kekurangan di situlah dia menutup yang kosong dengan inisiatif melengkapi potensi berdaya guna.

Bagaikan tutup botol, yang bentuknya kecil tapi berfungsi menghindari kebocoran besar.

Cooling Down

Apabila mengalami suatu permasalahan atau cek-cok mulut (debat kusir) dengan kerabat dekat atau orang lain, sangat dianjurkan menenangkan diri terlebih dahulu untuk kembali berpikir jernih, caranya menarik nafas panjang lalu hembuskan perlahan-lahan hingga mendapatkan suasana hati tentram karena akan terasa oksigen yang masuk ke otak mencairkan peredaran darah, yang memberikan perasaan damai dalam pikiran.

Tak perlu selesaikan masalah dalam kondisi tidak stabil, kuasai diri akan lebih baik dan ini bukan berarti kompromi untuk mengalah, hanya bereaksi diam, sesaat renungan guna mendapatkan momentum mengendalikan diri.

Ketika posisi diri telah kembali hadir dalam kendali maka terciptalah kekuatan penuh gairah semangat memenangkan debat tersebut.

Bully

Kebiasaan bullying di suatu tempat, terjadi bukan semata-mata karena intimidasi yang kuat menindas yang lemah.  Justru terjadi seringkali tak sengaja diawali obrolan santai, keluar kata candaan, meledek satu dengan lainnya, sindiran, hinaan, mulai menyinggung perasaan, memprovokasi sekitarnya untuk ikut aksi meledek, lalu nampak upaya menyudutkan seseorang yang dijadikan objek candaan semakin terpojokkan.

Ketika yang menjadi objek candaan gelisah ini kelihatan semakin seru dan menyudutkannya kembali menjadi bahan pelecehan secara lisan, barulah yang bersangkutan akan mengeluhkan dan merasa tidak menerima atas bullying tersebut.

Hindari perilaku yang akan menjadi ketidakseimbangan kekuatan sosial atau fisik mencakup pelecehan secara lisan, ancaman, paksaan, atau kekerasan fisik yang diarahkan berulang kali terhadap seseorang.

No bullying

Muslihat

Kadang seseorang melakukan sesuatu dengan tipu daya, yakni berbagai cara upaya yang buruk, untuk mengelabui orang lain, bisa bentuknya berupa candaan, ejekan, pengalihan yang benar kepada yang salah maupun sebaliknya yang salah kepada yang benar, hingga membingungkan orang lain sampai terperosok ke dalam tipu dayanya.

Muslihat tersebut akan melukai perasaan orang lain, walaupun hanya bercanda, tidak sungguh-sungguh melakukan tipu daya itu.  Tidak semua guyonan menjadi candaan, begitu juga candaan tidak sekedar guyonan.

Canda yang sehat tidak menimbulkan muslihat bagi orang lain, dan tak perlu berdusta untuk sebuah candaan, yang pada akhirnya seperti sebuah tipu daya.

Canda

Sebagai manusia Rasulullah suka canda, namun candanya tidak keluar dari batas kebenaran, lebih menumbuhkan cinta dan kasih sayang kepada umatnya.

Inilah teladan bagi kaum Muslim dalam bercanda.  Di mana beliau mencontohkan bahwa bercanda dengan sesuatu yang benar untuk menumbuhkan rasa cinta serta kasih sayang, bukan untuk saling membenci dan bermusuhan.

Canda bukanlah untuk mengejek atau memperolok seseorang, apalagi bentuk sindiran yang menyinggung perasaan itu tidak dibenarkan.  Oleh karenanya, cermatilah bagaimana Rasulullah bercanda tanpa dusta, dengan tidak keluar dari batas kebenaran.

Susu dan Tuba

Pribahasa yang mengatakan: “Air susu dibalas dengan air tuba” terdengar sangat tidak asing, tetapi mengandung makna yang terkesan janggal, unik, dan tak masuk akal yaitu kebaikan dibalas dengan kejahatan.  Rasanya aneh, suatu perbuatan baik seseorang dibalas dengan perbuatan jahat.  Mungkinkah perlakuan itu benar-benar terjadi apa adanya? Tersirat sesuai arti yang baru saja disampaikan.

Mustahil seseorang tega menghianati kebajikan yang diterimanya dibalas dengan keburukan.  Sebegitu jelekkah tantangan akhir zaman hingga perbuatan baik dinodai perbuatan jahat?

Fenomena itu terdengar tidak nyata tetapi bukan juga tak mungkin bisa ditemukan dalam kehidupan saat ini, dimana krisis kepribadian kian mencuat di permukaan bumi.  Rekayasa akhlak mudah disalah tafsirkan oleh segelintir orang yang mencoba merubah citra diri.  Upaya menjaga image pribadi dengan menghalalkan segala cara, nampak dominan dalam situasi dan kondisi tertentu.  Ingatlah akan balasan bagi mereka yang membenarkan cara yang salah akan berakibat fatal.

Kebaikan akan selalu menang melawan keburukan, itu fitrah manusia di dunia.

Paradigma

Hakikat dari sebuah amalan seseorang ditentukan oleh latar belakang mengapa perbuatan itu dikerjakan?

Ibadah yang baik sangat bergantung dari niat dalam hati seseorang, sejauh ini dapat direnungkan paradigma dalam menunaikan ibadahnya:

1. Berdasarkan rasa takut, tidak menjalankan kewajiban sebagai hamba diancam akan dihukum di neraka.

2. Berdasarkan penghargaan/reward, mengharapkan ganjaran yang dijanjikan dalam setiap amalan kebajikan.  Ibarat pedagang memperhitungkan untung rugi dari nilai pahala.

3. Berdasarkan perasaan cinta, nilai ibadah ini bukanlah karena takut neraka atau ingin meraih surga.  Tidak juga membandingkan keseimbangan dengan memberi dan menerima amalan ibadah.  Semata-mata menghadirkan niat ikhlas dalam wujud cinta di relung hati sanubari yang paling dalam mengharap ridho dan hidayah Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.