Survei

Tiba waktu kunjungan survei ke PIAPI membandingkan kebersihan asrama santriwati dengan santri putra di PIAPA. Ternyata KKM bersih rapi PIAPI=95 sedangkan PIAPA=75…ada kesenjangan jauh, yang perlu dikaji ulang.

Menentukan standar KKM yang sama…minimal mendekati interval nilai kewajaran bersih rapi. Sehingga putra harus kerja keras benahi aspek yang mempengaruhi KKM bersih rapi. Optimis, mampu samai value.

Selamat berjuang…

Perfeksionis

“Ustadz, saya dapat WA kalau ananda sakit? Apakah Ananda di asrama atau di klinik?” Konfirmasi walsan.
“Di klinik, Ana in syaa Allah baru bisa jenguk bada Ashar. Awal dawam kami piket santri wajib tidur siang di asrama.”
Walsan merespon lagi, “Ustadz..dari hasil konseling pemetaan santri, Apakah ananda ada kendala komunikasi dengan teman-temannya? Kemarin Ananda cerita merasa belum bisa punya teman dekat sekamar atau sekelas di sekolah. Sepertinya ananda banyak mindernya ustadz.”

“Masalah komunikasi dengan teman hanya logatnya saja dan ananda saat bicara cepat…sehingga yang mendengarkan ektra fokus. Adab & akhlak ananda masya Allah baik, sedikit teledor/lalai ini dia sudah berusaha tapi ananda rada cepat khawatiran. Allah musta’an…” Ustadz melanjutkan, “Tepatnya bukan minder, efek dia hati² dengan kelalaiannya, khawatir timbul masalah. Sebenarnya ananda termasuk perfeksionis.”
Kemudian walsan meneruskan, “Banyak yang sudah Ananda ceritakan ustadz, perkara tulisan teman²nya bagus, sedangkan dia biasa saja. Juga langsung minta saat liburan nanti belajar menulis ulang. Ananda terbiasa di SD-nya dulu secara akademik yang terbaik ustadz. Jadi ada kendala sedikit dia langsung merasa ‘saya ternyata tak bisa’. Itu tadi terbiasa perfect. Setidaknya dia belajar di atas langit masih ada langit . Perkara cara bicara, Ananda riwayat speech delay ustadz. Jadi ini memang problemnya. Dia kalau diminta bicara lebih lambat temponya. Ananda biasa lebih memilih diam, tak jadi bicara. Semoga seiring berjalannya waktu ananda bisa beradaptasi, mohon pendampingan dan bimbingannya ustadz.”

BK 1

Akhirnya memasuki 40 hari dampingi santri baru dalam keseharian di asrama, dari 47 santri ditemukan 1 ananda yang butuh BK pengasuhan.

Alhamdulillah masih termasuk kategori ringan hanya perlu komitmen kuat, fokus pada fitrahnya.

Semoga Allah Ta’ala mudahkan urusannya dan senantiasa dilindungi dari hasrat yang melampaui batas. Aamiin

Hidup dari tangan sendiri

Jangan serahkan nasib pada genggaman orang lain yang rapuh, sebab jalan hidup hanya kaki yang tahu arahnya.

Tangan adalah cangkul dan pena yang menorehkan keringat jadi makna, jangan berpangku pada bahu asing, sebab kekuatan lahir dari usaha diri.

Hidup tidak sekadar menunggu, tapi berani melangkah meski tertatih, lebih baik jatuh karena upaya daripada berdiri ditopang janji.

Bangun hari² dengan keyakinan, genggam erat harapan dari tangan untuk hidup sejati adalah hidup yang diukir dari kerja keras.

 

Alkindi 18/8/25

Jalani selagi bisa

Hidup ini singkat, jangan habiskan menoleh ke belakang, jangan biarkan suara asing menjadi tali pengikat langkah.

Jalani selagi bisa dengan keyakinan penuh di dada, sebab bukan lidah orang lain yang menentukan arah bahagia.

Berkenalanlah dengan siapa saja, itu hanya pintu yang terbuka, tapi jangan biarkan pintu itu menjadi rumah untuk hatimu. Sebab pertemanan bisa berbalik rupa menjadi bayangan yang menodai cahaya dan kehidupan terlalu berharga untuk dipengaruhi tangan yang bukan milikmu.

Maka jalani…selama nafas masih ada, tegak dengan diri sendiri tanpa harus tunduk pada dunia.

 

Alkindi 18/8/25

Gatal terusik

Mula santri merasa dibully berawal dari usil di kamar tak ada yang respon, lalu usil ke kamar lain ternyata ketemu respon yang sama karakternya suka usil. Walhasil iseng jahil kepada teman sekamar berhasil, pindah ke kamar lain berulang. Suatu saat ketemu lawan tanding, terikat…terjebak pergulatan. Ribut merasa tidak terima diperlakukan seperti itu. Adu mulut…cek-cok, geram ditahan kian omong sembarang jadi bumerang lalu pukul ringan balas cakar hingga jotos & upaya provokasi cari dukungan.

Survey membuktikan sumbernya dari ajang usil alias canda berbalas canda muncul iseng jadi usil.

Mencairkan kekisruhan itu antar mereka saling berbagi paket kiriman orangtua tukar menukar makanannya.

Persahabatan bagai kepompong…Kepompong itu terbelenggu, gatal isengnya ulat terusik jadi kupu² freedom.

Ulat jadi kupu² yang cantik, indah dilihat terbang bebas menghiasi pertemanan.

Jalin komunikasi

Kegiatan parenting seri pertama membantu menyamakan persepsi rumah dengan pesantren untuk pemetaan pola asuh sesuai kebutuhan ananda.

Tahap berikutnya adalah jalin komunikasi antara rumah & pesantren, menyamakan visi misi pendidikan pengasuhan.

Semoga ananda senantiasa dalam naungan aqidah yang benar, memenuhi harapan doa orangtua.

Allah musta’an..

Parenting-1

Masya Allah penerimaan santri baru tahun ini 70% adalah kali pertama orangtua memondokkan anaknya. Berarti tantangan pola asuh sangat besar untuk memastikan proses keseharian ananda di asrama.
Latarbelakang inilah diadakannya kegiatan parenting islami secara offline & online bertajuk Kembali ke aqidah: Misi orangtua di tengah derasnya tantangan zaman.
Kita hadapi dengan ilmu, iman dan sinergi antara rumah & pesantren.

Anak yang tumbuh dalam pelukan aqidah, akan berdiri tegar meski diterpa badai zaman.

Tidur

Kegiatan keseharian santri sungguh padat, anehnya masih saja ada temuan diantara mereka sulit tidur malam sehingga perlu patroli memastikan tidur cepat dimulai 21.30 lampu kamar dimatikan. Status 22.00 santri tidur.
Herannya laporan asatidzah KBM di kelas temuan santri sering mengantuk dan tertidur di kelas. Akhirnya keluarlah aturan santri wajib tidur siang menghapus layanan telpon komunikasi walsan dengan ananda sesi siang bergeser ke sore hari secara bersamaan juga jadwal kegiatan ekskul santri.
Semoga Allah Ta’ala mudahkan.

Hilang

Fenomena kehilangan sandal, qolansua/songkok/peci di pondok, hingga seragam menjadi warna warni sosialisasi santri. Lupa naruh, dipakai temannya tanpa izin, tertukar, lalai hingga raib terpaksa beli lagi.
Miris juga mendengar keluhan itu hilang, ketemu, hilang lagi, jadi malas cari beli lagi…
Akhirnya telusuri satu² terdapat benang merahnya adalah mayoritas lalai karena lupa & dipakai teman tanpa izin. Saking sering balas pakai sembarang punya orang, korban kian bertambah. Lingkaran masalah tak berujung pangkal. Terkenang peristiwa yang sama juga terjadi pada anak²ku saat mereka mondok. Sudah lazim…
Upaya orangtua memastikan ananda memelihara barang miliknya, dan pondok pun memasang CCTV di area² yang rawan.
Slogan² kejujuran mengisi ruang mading mengingatkan komunitas & nama baik almamater.
Kapan akan berakhir?…