“Ustadz, saya dapat WA kalau ananda sakit? Apakah Ananda di asrama atau di klinik?” Konfirmasi walsan.
“Di klinik, Ana in syaa Allah baru bisa jenguk bada Ashar. Awal dawam kami piket santri wajib tidur siang di asrama.”
Walsan merespon lagi, “Ustadz..dari hasil konseling pemetaan santri, Apakah ananda ada kendala komunikasi dengan teman-temannya? Kemarin Ananda cerita merasa belum bisa punya teman dekat sekamar atau sekelas di sekolah. Sepertinya ananda banyak mindernya ustadz.”
“Masalah komunikasi dengan teman hanya logatnya saja dan ananda saat bicara cepat…sehingga yang mendengarkan ektra fokus. Adab & akhlak ananda masya Allah baik, sedikit teledor/lalai ini dia sudah berusaha tapi ananda rada cepat khawatiran. Allah musta’an…” Ustadz melanjutkan, “Tepatnya bukan minder, efek dia hati² dengan kelalaiannya, khawatir timbul masalah. Sebenarnya ananda termasuk perfeksionis.”
Kemudian walsan meneruskan, “Banyak yang sudah Ananda ceritakan ustadz, perkara tulisan teman²nya bagus, sedangkan dia biasa saja. Juga langsung minta saat liburan nanti belajar menulis ulang. Ananda terbiasa di SD-nya dulu secara akademik yang terbaik ustadz. Jadi ada kendala sedikit dia langsung merasa ‘saya ternyata tak bisa’. Itu tadi terbiasa perfect. Setidaknya dia belajar di atas langit masih ada langit . Perkara cara bicara, Ananda riwayat speech delay ustadz. Jadi ini memang problemnya. Dia kalau diminta bicara lebih lambat temponya. Ananda biasa lebih memilih diam, tak jadi bicara. Semoga seiring berjalannya waktu ananda bisa beradaptasi, mohon pendampingan dan bimbingannya ustadz.”