“Afwan ustadz izin tanya…kek mana ustadz, apakah ananda sudah diajak ngobrolkah?” follow up Ummu khawatir.
“Sampai saat ini ananda masih aman..tidak termasuk berkebutuhan khusus atau mengalami sesuatu yang perlu ditangani. Ana sudah memetakan skala prioritas penanganan terhadap 3 santri yang sekamar dengan ananda. Sabar yaa…tak mudah perbaiki akhlak seseorang dengan latarbelakang yang berbeda. In syaa Allah Ananda bisa melaluinya”.
“Iya ustadz, saya paham ustadz…in syaa Allah Ananda bisa mengatasinya…Ananda diajak ngobrol aja ustadz. Dia kalau sudah keluar unek²nya lega…tapi Ananda memang anak yang taat aturan ustadz…ndak mau buat masalah.”
“Iya…sering Ana ajak bicara. Alhamdulillah tak ada keluhan.”
Ummunya melanjutkan, “Tapi kalau dah main fisik, saya dah bilang, adek boleh balas…pokoknya adek jangan mulai kalau ndak di mulai..”
Ustadz tertegun sejenak.
“Sedihnya macam Abangnya dulu juga ustadz…1 angkatan pada ngatain dia gentong-lah..ngatain hewan-lah…Alhamdulillah perlahan bisa diselesaikannya”.
Validasi opening & identifikasi konseling walsan tersampaikan, kheir in syaa Allah.
Kakek
“Ustadz…Sebenarnya posisi saya dekat pondok sedang perjalanan ke RS. Solo mau mampir tapi khawatir Jiddi (kakek) ananda ngajak dia pulang, karena tadi di tol bilang…”mampir pondok, ananda diajak pulang aja yaa..”
Ananda itu cucu kesayangan Abah…tinggal satu rumah, ke Masjid sama²..teman ngobrol di rumah..jadi saat ananda mondok..sedikit banyak Abah juga kehilangan ananda. Sebelumnya baru ditinggal Jidah (nenek).
Pukulan kuat buat Abah…psikis Abah hantamannya terlalu dalam.
Mohon Do’a nya nggih ustadz…Khairan Insya Allah.”
Suara hati
Belum sepekan berlalu sudah 2 adho divonis morbili sakit campak, meresahkan penghuni asrama, khawatir merambah kamar lainnya. Semoga Allah Ta’ala sembuhkan sakitnya tanpa bekas…aamiin.
Qodarullah mereka dapat rujukan rawat di rumah untuk menghentikan penyebaran sakitnya.
Tak ada pilihan, harus ketinggalan pelajaran, atau merasa senang bisa rehat sejenak kumpul keluarga kembali. ‘Bonus sakit boleh pulang..’ lirih suara hati.
Kupeng
“Ana jengkel ustadz…” Komen seorang santri.
“Kenapa?”
“Teman² itu sudah tahu aturan tapi melanggarnya ustadz..”
“Antum ingatkan saja, baik²…in syaa Allah didengar.”
“Ana ingatkan malah tersinggung, sok ngatur-atur katanya…Ana ajak bersih² rapikan ranjang, ditinggal pergi…capek ustadz tak ada yang peduli.” Mulai klimaks marah.
“Sabar yaa…ba’da Isya in syaa Allah ustadz isi kupeng (kurikulum pengasuhan). Temanya sesuai tentang komitmen santri terhadap: sederhana, kebersihan badan, kebersihan pakaian, kebersihan sekitar, toleransi, menahan amarah, dan tutur kata yang baik.
Selesai buku Melatih Kedewasaan Diri.
Mudah Marah
Serangkaian kegiatan konseling yang telah dilalui dari satu santri ke santri lainnya yang menarik adalah temuan mudah marah seseorang terhadap sikap canda berlebihan.
Berawal dari canda biasa, kian menarik lalu berkembang hingga mengundang amarah. Ini bagian bumbu keseharian pertemanan santri.
Uniknya ada yang sensi selama masa karantina ini belum pernah amarahnya terpancing keluar. Usut punya usut tanya: “Jangan² antum suka buat temannya marah ya..?” Jawabnya:”Benar ustadz..”
Validasi tersampaikan, noted.
KKM Bersih Rapi
Memastikan kamar santri senantiasa bersih rapi, ternyata butuh proses edukasi, lebih sulit dari makna definisi bersih rapi…yang hanya cukup dilihat secara kasat mata enak dipandang, menyenangkan hati menuai kenyamanan diri.
Mengajak ananda konsisten merawat kebersihan kamar tak cukup seminggu, hampir sebulan pun ini masih edukasi resik rawat belum tuntas.
Pembiasaan diri ananda nampak dari bawaan kebiasaan di rumah. Semakin sulit prosesnya bagi santri yang tak pernah belajar mandiri mengerjakan pekerjaan rumah. Terbukti selama masa karantina santri, butuh nilai KKM kebersihan kamar…hingga perlu mengadakan taftis standar perlengkapan bawaan santri. Mensortir kelebihan keperluan dirinya.
Patroli rutin mengunjungi kamar sesuai KKM bersih rapi yang kami tentukan. Perlahan santri semakin termotivasi menjaga standar bersih rapi kamarnya.
Allah musta’an…
Surat Alkindi
Bunda…dipelukanmu aku belajar arti rumah, ditatapanmu kutemukan arah jiwa. Kini langkahku harus menjauh sejenak, meski hati ini enggan beranjak.
Senyummu tersimpan di setiap doa, mendoakan anakmu di jalan yang berbeda. Air mata jangan jatuh, bunda tercinta..perpisahan ini hanya jeda, tidak selamanya.
Kelak saat senja kembali menyapa, aku pulang membawa cerita bahagia. Bunda..tunggulah di beranda doa, sampai jumpa lagi dipelukan yang sama.
Semoga lain waktu hangat itu kembali terasa, dekapan cinta sempurna, hanya bunda yang kurindukan hadirnya, dalam setiap waktu tanpa jeda.
Telpon
Momen yang dinanti-nanti santri, yakni fasilitas pelayanan hp dimulai Senin 11 Agustus 2025 isyarat rindu membanjiri asrama. Tumpah ruwah masuk kamar tak tertahankan.
Cerita cinta kasih ibu sepanjang masa menggema…
“Piye kabarmu, Le..?”
“Sehat nak..?”
“Kumaha damang, kaseup..?”
“Kaifahalukum..?”
“How are you..?”
“Mama kangen..rindu? Kamu betah di pondok?”
“Take care..? Are you ok..?”
Begitulah cinta…jauh di mata namun dekat di hati
Sekolah asrama adalah pilihan terbaikmu
Belum selesai masa karantina santri. Penerimaan santri baru mulai 2 Agustus 2025, jangan tunda…segera daftarkan diri ananda untuk mondok di pesantren.
Zaman sekarang krisis akhlak merajarela, tak ada pilihan lain selain boarding school is the best your choice.
Pastikan ananda daftar di Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran, ajak keluarga…teman…yang ingin putra-putrinya terbebas dari krisis akhlak..don’t forget!
Karantina
Awal masuk pondok, santri dikarantina selama 1 bulan tak bisa kontak dengan keluarga. Ajang sosialisasi pembiasaan diri di lingkungan barunya.
Tentu..ada kecemasan orangtua, apakah ananda mampu mandiri lepas dari ketergantungannya? Biasa diladeni, serba instan. Sekarang serba sendiri, apa² urus diri sendiri.
Welcome to pesantren
Jangan ibaratkan pondok seperti laundry … pakaian kotor masuk lalu keluar sudah bersih dan harum.
Pembentukan akhlak butuh proses..waktu, sesuai hidayah yang dikabulkan.
Allah musta’an…
