Jalani selagi bisa

Hidup ini singkat, jangan habiskan menoleh ke belakang, jangan biarkan suara asing menjadi tali pengikat langkah.

Jalani selagi bisa dengan keyakinan penuh di dada, sebab bukan lidah orang lain yang menentukan arah bahagia.

Berkenalanlah dengan siapa saja, itu hanya pintu yang terbuka, tapi jangan biarkan pintu itu menjadi rumah untuk hatimu. Sebab pertemanan bisa berbalik rupa menjadi bayangan yang menodai cahaya dan kehidupan terlalu berharga untuk dipengaruhi tangan yang bukan milikmu.

Maka jalani…selama nafas masih ada, tegak dengan diri sendiri tanpa harus tunduk pada dunia.

 

Alkindi 18/8/25

Gatal terusik

Mula santri merasa dibully berawal dari usil di kamar tak ada yang respon, lalu usil ke kamar lain ternyata ketemu respon yang sama karakternya suka usil. Walhasil iseng jahil kepada teman sekamar berhasil, pindah ke kamar lain berulang. Suatu saat ketemu lawan tanding, terikat…terjebak pergulatan. Ribut merasa tidak terima diperlakukan seperti itu. Adu mulut…cek-cok, geram ditahan kian omong sembarang jadi bumerang lalu pukul ringan balas cakar hingga jotos & upaya provokasi cari dukungan.

Survey membuktikan sumbernya dari ajang usil alias canda berbalas canda muncul iseng jadi usil.

Mencairkan kekisruhan itu antar mereka saling berbagi paket kiriman orangtua tukar menukar makanannya.

Persahabatan bagai kepompong…Kepompong itu terbelenggu, gatal isengnya ulat terusik jadi kupu² freedom.

Ulat jadi kupu² yang cantik, indah dilihat terbang bebas menghiasi pertemanan.

Jalin komunikasi

Kegiatan parenting seri pertama membantu menyamakan persepsi rumah dengan pesantren untuk pemetaan pola asuh sesuai kebutuhan ananda.

Tahap berikutnya adalah jalin komunikasi antara rumah & pesantren, menyamakan visi misi pendidikan pengasuhan.

Semoga ananda senantiasa dalam naungan aqidah yang benar, memenuhi harapan doa orangtua.

Allah musta’an..

Parenting-1

Masya Allah penerimaan santri baru tahun ini 70% adalah kali pertama orangtua memondokkan anaknya. Berarti tantangan pola asuh sangat besar untuk memastikan proses keseharian ananda di asrama.
Latarbelakang inilah diadakannya kegiatan parenting islami secara offline & online bertajuk Kembali ke aqidah: Misi orangtua di tengah derasnya tantangan zaman.
Kita hadapi dengan ilmu, iman dan sinergi antara rumah & pesantren.

Anak yang tumbuh dalam pelukan aqidah, akan berdiri tegar meski diterpa badai zaman.

Tidur

Kegiatan keseharian santri sungguh padat, anehnya masih saja ada temuan diantara mereka sulit tidur malam sehingga perlu patroli memastikan tidur cepat dimulai 21.30 lampu kamar dimatikan. Status 22.00 santri tidur.
Herannya laporan asatidzah KBM di kelas temuan santri sering mengantuk dan tertidur di kelas. Akhirnya keluarlah aturan santri wajib tidur siang menghapus layanan telpon komunikasi walsan dengan ananda sesi siang bergeser ke sore hari secara bersamaan juga jadwal kegiatan ekskul santri.
Semoga Allah Ta’ala mudahkan.

Hilang

Fenomena kehilangan sandal, qolansua/songkok/peci di pondok, hingga seragam menjadi warna warni sosialisasi santri. Lupa naruh, dipakai temannya tanpa izin, tertukar, lalai hingga raib terpaksa beli lagi.
Miris juga mendengar keluhan itu hilang, ketemu, hilang lagi, jadi malas cari beli lagi…
Akhirnya telusuri satu² terdapat benang merahnya adalah mayoritas lalai karena lupa & dipakai teman tanpa izin. Saking sering balas pakai sembarang punya orang, korban kian bertambah. Lingkaran masalah tak berujung pangkal. Terkenang peristiwa yang sama juga terjadi pada anak²ku saat mereka mondok. Sudah lazim…
Upaya orangtua memastikan ananda memelihara barang miliknya, dan pondok pun memasang CCTV di area² yang rawan.
Slogan² kejujuran mengisi ruang mading mengingatkan komunitas & nama baik almamater.
Kapan akan berakhir?…

Ummu khawatir

Afwan ustadz izin tanya…kek mana ustadz, apakah ananda sudah diajak ngobrolkah?” follow up Ummu khawatir.
“Sampai saat ini ananda masih aman..tidak termasuk berkebutuhan khusus atau mengalami sesuatu yang perlu ditangani. Ana sudah memetakan skala prioritas penanganan terhadap 3 santri yang sekamar dengan ananda. Sabar yaa…tak mudah perbaiki akhlak seseorang dengan latarbelakang yang berbeda. In syaa Allah Ananda bisa melaluinya”.
“Iya ustadz, saya paham ustadz…in syaa Allah Ananda bisa mengatasinya…Ananda diajak ngobrol aja ustadz. Dia kalau sudah keluar unek²nya lega…tapi Ananda memang anak yang taat aturan ustadz…ndak mau buat masalah.”
“Iya…sering Ana ajak bicara. Alhamdulillah tak ada keluhan.”
Ummunya melanjutkan, “Tapi kalau dah main fisik, saya dah bilang, adek boleh balas…pokoknya adek jangan mulai kalau ndak di mulai..”
Ustadz tertegun sejenak.
“Sedihnya macam Abangnya dulu juga ustadz…1 angkatan pada ngatain dia gentong-lah..ngatain hewan-lah…Alhamdulillah perlahan bisa diselesaikannya”.
Validasi opening & identifikasi konseling walsan tersampaikan, kheir in syaa Allah.

Kakek

“Ustadz…Sebenarnya posisi saya dekat pondok sedang perjalanan ke RS. Solo mau mampir tapi khawatir Jiddi (kakek) ananda ngajak dia pulang, karena tadi di tol bilang…”mampir pondok, ananda diajak pulang aja yaa..

Ananda itu cucu kesayangan Abah…tinggal satu rumah, ke Masjid sama²..teman ngobrol di rumah..jadi saat ananda mondok..sedikit banyak Abah juga kehilangan ananda. Sebelumnya baru ditinggal Jidah (nenek).

Pukulan kuat buat Abah…psikis Abah hantamannya terlalu dalam.

Mohon Do’a nya nggih ustadz…Khairan Insya Allah.”

Suara hati

Belum sepekan berlalu sudah 2 adho divonis morbili sakit campak, meresahkan penghuni asrama, khawatir merambah kamar lainnya. Semoga Allah Ta’ala sembuhkan sakitnya tanpa bekas…aamiin.
Qodarullah mereka dapat rujukan rawat di rumah untuk menghentikan penyebaran sakitnya.
Tak ada pilihan, harus ketinggalan pelajaran, atau merasa senang bisa rehat sejenak kumpul keluarga kembali. ‘Bonus sakit boleh pulang..’ lirih suara hati.

Kupeng

“Ana jengkel ustadz…” Komen seorang santri.
“Kenapa?”
“Teman² itu sudah tahu aturan tapi melanggarnya ustadz..”
“Antum ingatkan saja, baik²…in syaa Allah didengar.”
“Ana ingatkan malah tersinggung, sok ngatur-atur katanya…Ana ajak bersih² rapikan ranjang, ditinggal pergi…capek ustadz tak ada yang peduli.” Mulai klimaks marah.
“Sabar yaa…ba’da Isya in syaa Allah ustadz isi kupeng (kurikulum pengasuhan). Temanya sesuai tentang komitmen santri terhadap: sederhana, kebersihan badan, kebersihan pakaian, kebersihan sekitar, toleransi, menahan amarah, dan tutur kata yang baik.
Selesai buku Melatih Kedewasaan Diri.