Tiada yang abadi

Tiada mentari bersinar selamanya

Mereka perlahan menjadi senja

Kian malampun tiba

Oleh pancar bulan purnama

 

Taada hidup yang abadi

Taada barang dibawa mati

Semuanya pasti akan kita tinggali

Di kehidupan dalam bumi

 

Dari segala jiwa dunia

Kita menjadi salah satunya

Untuk mengukir akan cerita

Rindu, riang, gembira

 

Ya, pasti takkan kulupa

Kisah kita selamanya

Menciptakan sejarah warna

Dalam buku lingkup dunia

 

Dari segala katanya

Tiada abadi dalam dunia

Hanya sejarah menjadi cerita

Untuk kita akan nantinya

 

Tulisan k dari anak sekolah

Rapalku

Rapal ku untukmu

Yang mencipta pancarona padaku

Kian aku terpukau

Oleh manisnya senyummu

 

Ya, itulah aku

Penulis kiasan kata hatimu

Yang tak terucap oleh bibirku

Tapi terbelenggu dalam batinku

 

Sungguh mata tak seirama

Oleh jiwaku menahan cinta

Akan parasmu mempesona

Kian kini sampai nantinya

 

Kuping mendengar tentang rapat kerja

Tapi ragaku malah menatapnya

Kala curit pandangku untuknya

Menenangi akan sebuah suasana

 

Hati lega, sejahtera

Tatkala dia sudah tiba

Akan cinta membahana

Dalam relung jiwa bahagia

 

Tulisan k dari anak sekolah

Diari kisah cintaku

Cinta bukan logika seperti apa katanya

Tapi cinta itu adalah rasa dalam jiwa

Dari sebuah insan bernafas

Untuk menyempurnakan kehidupan

Ya, itu suatu bianglala

Tercipta oleh biasnya rinai

Dalam hidup akan atma

Menjadi petrikor dalam dunia

Akhir tertulis pena

Dalam kisah teka teki

Akan cinta tak kunjung bersemi

Dalam buku sebuah diari

 

Tulisan k dari anak sekolah

Senja berkata

Senja berkata

Kesuksesan tak selamanya ada

Bagai sinarku yang akan mereda

Ketika pada saat waktunya tiba

 

Sungguh itu adalah realita

Dengan kehidupan dunia nyata

Yang nanti kalian akan memahaminya

Di kala roda sedang berputar pada porosnya

 

Mulailah berkarya

Mulailah membuat cerita

Agar hidup terus berbahagia

Seiringi perjalanan lika-liku dunia

 

Penuh rasa percaya

Indahnya sebuah dunia

Dicipta dengan semangat jiwa

Untuk menjadi seorang kesatria

 

Tiada takut akan lara

Melewati rasa penuh luka

Karena kuyakin bahwasanya

Kalau kita pasti bisa menjalankannya

 

Oleh:(K) anak sekolah

Tikungan tajam

Berlari-lari tanpa henti

Menyelusuri pesisir pantai

Mengejar cinta yang tak usai

Akan hidup setiap hari

 

Seketika semua menjadi sirna

Atas datang sebuah pria

Yang menikung begitu tajamnya

Di kala diri ingin meraih parasnya

 

Tiada henti habisnya

Akan busuk sebuah rasa

Oleh pria yang tak setia

Akan wanita yang mengaguminya

 

Oh duhai tikungan tajam

Merusak semua yang telah ditanam

Dari bibit yang dikubur dalam

Agar cinta takan memburam

 

Oleh: Muhammad Alkindi

Pola Asuh 7X3

Generasi milenial adalah generasi yang dimanjakan fasilitas internet, yang melek teknologi, pintar, aktif dan kreatif, biasa dengan hal yang praktis, individualis, narsis, gampang bosan, cenderung tidak sabaran dan bukan generasi penurut. Sehingga internet bagai candu menghipnotis pelakunya.
Bahaya laten teknologi yang semakin canggih, akan terjadi penyalahgunaan manfaat dari kecanggihan tersebut.

Sebagai orangtua harus memahami karakter dan bisa merebut simpati ananda dengan menghubungkan hasrat terhadap ide-ide baru yang kreatif dan memberikan kepercayaan diri untuk mengeksekusinya.
Memasukkan ananda ke pesantren merupakan salah satu cara meredam minatnya. Ini merupakan solusi yang banyak dipilih untuk menghindari ketergantungan ananda terhadap gadget.

Pendidikan pengasuhan pesantren mencetak akhlak dan kepribadian ananda agar senantiasa menunaikan amal shaleh kebaikan dalam kesehariannya. Bukan berarti mengubur hasrat akan informasi dan teknologi. Tetapi untuk menahan diri dari kelalaian akibat yang ditimbulkan pengaruh gadget.
Saat ini ananda mungkin merasa kurang dukungan atas keputusan boarding school. Kelak berjalannya waktu, ananda akan faham maksud dan tujuan mondok di pesantren.

Pola asuh 7X3 tahapan yakni:
1. Kelompok 7 tahun pertama (0-7th), perlakukan ananda sebagai raja.
2. Kelompok 7 tahun kedua (8-14th), perlakukan ananda sebagai tawanan.
3. Kelompok 7 tahun ketiga (15-21th), perlakukan ananda sebagai sahabat.

Seorang Al

Ada santri, sebut saja namanya Al. Dia dijuluki anak manja. Sehari-harinya seperti daun jatuh terbawa arus sungai yang mengalir tak berujung. Secara belum mandiri, tinggal di asrama bagai mimpi buruk. Tak ada orang di sekitarnya yang siap bantu menata diri. Al merasa home alone di asrama yang juga dihuni sebayanya.
Jenjang Mutawasitoh sederajat SMP untuk anak laki-laki termasuk kriteria anak yang belum dewasa jelang baligh. Walau terdapat satu atau dua santri yang sudah baligh belum tentu matang secara psikis. Beda dengan anak perempuan yang cenderung sudah baligh dan lebih menahan diri secara psikis.

Seberapa kuat Al beradaptasi dengan lingkungan ini… “Ayah Bunda tega juga” lirih Al dalam hati.
Semoga saja Al betah mengarungi kehidupan asrama sebagai santri.

Tulisan dalam Bingkai

Oh, yaa…Simut mau cerita. Sebenarnya pas mau beli bingkai ini Simut agak ragu, karena Simut yakin 100% bahwa bingkai ini tidak bisa membayar semua sandal yang Ayah beli untuk Simut. Tapi Simut merasa bahwa bingkai itu berharga karena goresan pena ini banyak kenangan indah yang Simut lalui bersama Ayah yang tak bisa ditulis di sini. Simut hanya bisa bilang “Terima kasih banyak atas semua yang Ayah berikan”. Simut kadang-kadang suka bingung…rata-rata temen itu lebih dekat sama Bundanya, sedangkan aku lebih dekat sama Ayah yang benar-benar WOW… My Dad is My Super Hero.

Semoga impian Ayah terkabul…sehat selalu dan diberikan umur panjang…Aamiin

 

From Miss Sandal
Khadijah Siti Mutmainah