Kecewa

Perasaan kecewa merupakan fitrah manusia yang muncul dari tidak suka melihat suatu hal. Ini jangan sampai menjadi timbul benci, karena benci itu penyakit hati.

Obat sakit hati adalah kasih. Tanam benih cinta kasih sesama manusia untuk mengelola rasa kecewa.

Harapan

Hari demi hari kehidupan manusia senantiasa menemui masalah yang menimbulkan kehampaan dalam diri dan solusinya adalah menghadirkan harapan dengan keyakinan atau kepercayaan akan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bagaikan berada dalam sebuah lorong kegelapan nampak seberkas sinar cahaya pada ujung lorong tersebut.

Harapan itu yakin dan percaya.

Jiwa Raga

Manusia cenderung mencari keuntungan diri dalam hidup, jiwa memiliki nilai baik yang telah Allah berikan kepada manusia berupa fitrah sebagai khalifah dunia, sedangkan raga memilih kesenangan memuaskan fisik/tubuhnya.

Maka dari itu manusia perlu mengendalikan diri, selalu menjaga ketaqwaan kepada Allah Azza wa Jalla dan senantiasa meningkatkan keimanan dengan tidak sekedar percaya Allah itu ada, harus percaya Allah itu hadir dan yakin Allah tempat bergantungnya.

Berbuat Salah dan Dosa

Berbuat salah itu manusiawi dan berbuat dosa itu tidak manusiawi. Karena manusia berbuat salah belum tahu, sedangkan manusia berbuat dosa itu sudah tahu bahwa perbuatan tersebut berdosa. Bersalah belum tentu berdosa, sedangkan berdosa sudah pasti salah.

Dosa berawal dari pikiran yang didorong hasrat yakni puncak kebebasan dan kenikmatan. Pintu masuknya melalui keinginan, manusia selalu punya keinginan sedangkan mahluk lain punya kebutuhan.

DOSA is something sweet the beginning, but bitter in the end, yakni sesuatu yang manis di awal, tapi pahit pada akhirnya.

Dosa itu keputusan atas pilihan dari keinginan manusia yang menawarkan kenikmatan jangka pendek dan mengalahkan kenikmatan jangka panjang.

Tingkatan Dosa:
1. Dosa yang disesali
2. Dosa yang dinikmati
3. Dosa yang dibanggakan
Orang yang percaya Tuhan tidak akan melakukan dosa.

Orang yang melakukan dosa tidak menyadari adanya Tuhan.

Tuhan tidak akan mengampuni dosa manusia yang tanpa penyesalan, syarat utamanya harus dengan tidak mengulangi dosa tersebut.

Egois atau Sombong

Tatkala diri merasa mampu, mandiri dan tangguh. Benih-benih egois akan muncul menguasai diri hingga membentuk karakter jiwa sombong yang merasa hebat dan bangga. Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat membenci mahluk yang memiliki keangkuhan.

Segera waspadai agar tidak kian menjadi. Bunuh egomu sebelum menjadi sombong.

Benar secara Religius atau Baik secara Spritual

Manusia sebagai diri pribadi memiliki fitrah menjadi seorang hamba yang taat dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla agar senantiasa terjaga akhlak budi pekertinya dalam bermuamalah dengan sesama mahluk.

Sebagai seorang yang religius, manusia wajib menuntut ilmu untuk memastikan ritual peribadatannya sesuai tuntunan Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam. Dalam kebenaran tentu akan berbuah kebaikan secara spiritual yang menuntun raga menjadi insan yang berguna dan bermanfaat di dunia.

Bahaya laten seorang yang sangat religius akan dihantui perasaan sombong karena merasa benar dalam beribadah kepada Sang Khalik. Seringkali lupa bahwasanya antar sesama mahluk yang diperhatikan adalah nilai-nilai kebaikan seorang hamba kepada sesama secara horizontal yang merupakan wujud apresiasi pendidikan religius diri pribadinya.

Sedangkan hanya memiliki kebaikan secara spiritual, seorang hamba akan mudah meninggalkan ketaatan ibadah dan amalan terbaiknya kepada Allah yang Maha Pencipta. Ini sangat membahayakan diri pribadinya dari ilmu pendidikan religius.

Jadilah seorang manusia yang religius agar menjadi baik spiritualnya.