Baik

Tak seorang pun pernah bisa memenuhi harapan orang yang berada sangat dekat dengannya,

Tak seorang pun mampu melengkapi hasrat lingkungan sekitar,

Tak ada yang sanggup menampung keluhan dari kerabat sanak saudara.

Cukupkan diri dengan segala kebaikan yang ada yang dapat dipersembahkan untuk diri sendiri, dan tebarkan kepada orang lain, niscaya berbuat baik tumbuh di mana-mana, mencerminkan karakter budaya bangsa negeri ini.

Kesempatan

Selesai ambil program S1, kecenderungan orang awam segera hunting pekerjaan yang cocok dengan akademisnya atau mencoba peluang yang linier dengan minat dan bakat diri, upaya meraih kesempatan mengembangkan potensi karier.

Bagaimana yang menyelesaikan pascasarjana, apakah sama dengan yang lepas S1?

Sedikit beda, pengakuan itu harus ada wujud apresiasi perubahan dalam bentuk kesehariaannya, misalkan pribadi kian menarik, komunikasi baik, dan atau menciptakan suatu karya yang patut diperhitungkan.

Perhatian

Bagaimana pun juga yang namanya anak itu sangat membutuhkan perhatian ayah bunda.   Terutama bantu mendesign cita-citanya sesuai bakat dan potensi yang dimiliki ananda.   Gali semaksimal mungkin keterampilannya yang tak akan jauh berbeda dari orangtua maupun keturunan di atasnya lagi.   Misalkan ada diantara keluarga besar anda menjadi seorang tokoh agama, kemungkinan besar salah satu kerabatnya akan mengikuti jejak sang tokoh.   Percaya atau tidak, begitulah teori genetik memaparkan hubungan darah memengaruhi bakat seseorang.

Tinggal bagaimana menyingkapi dan mengeluarkan potensi yang dimiliki ananda seperti harapan ayah bunda.

Kompromi

Ketika terjadi beda keinginan, maka akan ada kompromi diantara kedua belah pihak yang tidak sependapat mencari solusi terbaik yang melegakan.   Tetap saja ada yang dikalahkan, sekecil apapun resiko yang ditanggung akan berdampak dikemudian hari seperti luka yang membekas.   Sebaiknya buat rencana jangka panjang yang lebih future ristik jauh ke depan agar dapat meredam kekecewaan yang disebabkan pengorbanan seseorang.

Buat happy ending maka akan indah pada waktunya.

Dilema

Selalu saja dihadapkan pada pilihan dimana tak ada satupun yang dapat dipilih yang pada akhirnya harus menyamakan persepsi terlebih dahulu, kemudian menentukan resiko pilihan yang paling ringan dan tidak memberatkan semua pihak.   Begitu sulit mengambil keputusan adil bagi semuanya.

Itu terjadi saat orangtua memaksakan ananda boarding school ke pesantren, proses membangun hasrat ananda untuk mau mengikuti secara sadar atas minat sendiri hadir bersama kemauan yang besar begitu susah.   Harus berkompromi dulu hingga sepakat dan yakin terhadap pilihannya.

Sedikit paksaan akan menjadi nilai resiko yang akan dihadapi kedua belah pihak, pastikanlah tak ada sebuah paksaan.

Asa

Harapan orangtua kepada anaknya adalah ananda menjadi sholeh/sholehah, itu merupakan pahala yang terus mengalir walaupun sudah tutup usia.   Hasrat yang menjadi impian.   Akankah nyata? Takdir harus didekatkan, begitulah upaya manusia sebagai hamba tak boleh menyerah terus berusaha mengejar takdirnya.

Qodarullah…manusia biasa sering kali berbuat salah, tak perlu berputus asa, selalu masih ada jalan menuju keharibaanNya.   Berjuanglah luruskan niat hijrah di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Hikmah

Ketika memasukkan putriku ke pesantren jenjang Ibtidaiyyah setara dengan Sekolah Dasar, aku buat perjanjian tidak tertulis dengan putriku bahwa aku berjanji menengoknya seminggu sekali.   Aku di Jakarta sedangkan pondok putriku di Solo.   Yaa, sebuah pengorbanan melaju setiap pekan Jakarta – Solo.

Saat kunjungan aku bermalam sehari di wisma tamu pondok itu dan tidur bersamanya.   Begitu syahdu kebersamaan sesaat mengisi waktu kami.

Esok sore harinya upacara perpisahan selalu diiringi tangis ananda meminta ikut pulang ke Jakarta dan dengan segala upaya aku membujuk bahwasanya ini demi kebaikannya kelak.   Sambil aku berdoa memohon kepada Allah untuk selalu melindungi putriku dan menjaganya.

Terima kasih banyak telah mengikuti keinginan ayahmu, nak…

Skor

Dalam pertandingan olahraga skor sebelum tanding itu 0-0, ketika pluit dibunyikan oleh wasit pertanda dimulainya partai tersebut, satu sama lain saling menyerang untuk memenangkan lomba.   Begitu juga hubungan kita dengan seseorang, seperti sebuah pertandingan juga yang membedakannya adalah kita berlomba-lomba dalam kebaikan, saling nasehat menasehati dalam kebenaran, memerangi kemungkaran, dan memberikan nilai norma kehidupan.

Semakin banyak skor tercipta dialah sebagai pemenangnya, begitu juga ketika kita membantu dalam kebaikan maka akan bertambah nilai amal ibadah.   Semoga kita selalu menang di kehidupan dunia.

Aamiin…..

Mulai dari Nol

Tak perlu berkecil hati bagi orangtua yang sudah terlanjur memfasilitasi hp untuk ananda.   Mulai saja dari sekarang perbaiki komunikasi dengan seluruh penghuni rumah dan adakan kegiatan bersama sambil membuat aturan main baru mengendalikan seluruh kegiatan dalam pantauan orangtua.   Mulai dari nol lagi.

Negosiasi dengan ananda sambil bercengkrama, misalkan diajak makan bersama di luar rumah lalu menawarkan ananda yang pilih tempatnya, santai bersahaja tidak seperti dikondisikan berkepentingan khusus.   Lakukan senatural mungkin tanpa terlihat rekayasa.   Kalau diperlukan ajang tersebut dijadikan rutinitas untuk membangun keterbukaan diantara anggota keluarga.

Perlahan tapi pasti kembalikan fungsi rumah sebagaimana mestinya yakni tempat kumpul dalam kebersamaan dan jalin kembali komunikasi terbuka agar rumah terasa homy (betah di rumah).

Pondok Pesantren

Menyedihkan sekali mengetahui anak nakal yang sulit dinasehati menjadi alasan dimasukkan ke pondok pesantren, bagaikan menaruh pakaian kotor di-loundry berharap ketika diambil kembali sudah rapi dan wangi.

Miris…pondok pesantren diibaratkan tempat membersihkan pribadi-pribadi yang kotor dalam sekejap bersih dan harum semerbak bunga.

Pentingnya belajar ilmu agama di pondok pesantren agar kondusif mengamalkan ilmu yang diraih untuk akhirat sehingga Allah akan cukupkan kehidupan dunianya.

Maka menyekolahkan ananda di sekolah boarding school semata-mata memperbaiki karakteristik kepribadian anak agar sesuai aqidah Islam yang tertanam dalam contoh diri Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasalam yang memiliki budi pekerti yang baik berakhlak mulia.