Observasi

Tugas musyrif pada pelatihan hari pertama yaitu observasi santri, mengamati kondisi santri saat melakukan observasi umum kepada ananda: secara fisik (sehat, aktif atau kurang tidur), secara emosi (ceria, mudah tertawa, cenderung pendiam atau sensitif), dan secara sosial (berinteraksi dengan baik, memiliki banyak teman atau cenderung menyendiri).

Kondisi ananda berinteraksi dengan pengasuh: saat diberi tugas (menerima atau menolak), saat diberi teguran (ceria, termotivasi, cenderung pendiam atau sensitif), keterbukaan dengan pengasuh (sering atau jarang berkomunikasi), saat diberi pujian (merasa senang, malu atau tidak nyaman).

Kondisi ananda berinteraksi dengan teman sebaya: dalam kegiatan kelompok (aktif memimpin, menjadi pendengar atau mengikuti arahan), saat konflik (menyelesaikan atau menghindari masalah), sikap terhadap aturan asrama (menerima atau tidak menerima aturan).

Hasil pelatihan observasi santri, musyrif melakukan analisis dan rekomendasi pengasuhan.

Kompas

Hari pertama pelatihan musyrif & musyrifah, membahas Orientasi Program Kepengasuhan berbasis fitrah sebagai kompas petunjuk arah jalan cenderung pada kebaikan/kebenaran, antara lain:

Ilmu yaitu pengetahuan yang bersumber dari Allah kepada hambanya untuk menunaikan amalan perbuatan yang menuai ketaqwaan berorientasi akhirat.

Teori yaitu pengetahuan yang bersumber dari manusia untuk dipraktekkan agar terampil dalam kehidupan.

Konsep yaitu pengetahuan yang bersumber dari manusia berupa aturan atau prinsip² aplikasi sebagai solusi dalam menyelesaikan masalah hidup.

Unsur² kekuatan dalam jiwa manusia, terdiri atas: Fitrah, Akal fikiran, & Hawa nafsu.

Target kepengasuhan adalah perubahan karakter, mulai dari: paham, yakin, sadar, sikap & perbuatan lalu tercipta perubahan. Tahapannya melalui pendekatan, pembiasaan & pelayanan (disingkat: KATSAYAN).

Kesadaran adalah poin pertama dari suatu perubahan.

Sopan santun

Sopan santun adalah tingkah laku yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain, senantiasa menjaga perilaku norma kehidupan sehari-hari.

Pesantren andil membentuk pribadi santri yang sopan santun dalam pergaulan ananda di asrama, bermuamalah sesuai syariat dengan latarbelakang budaya yang beragam bawaan dari rumah masing², mewarnai lingkungan pondok yang homogen.

Paduan makna bhineka tunggal ika dalam keharmonisan tatanan pesantren membangun karakter muslim sejati.

Disiplin

Disiplin adalah kepatuhan pada aturan yang berlaku, menjadi tuntutan kebutuhan diri sendiri untuk berperan lebih baik dan produktif.

Pesantren mendukung pembentukan karakter ini dengan memberikan nilai suluk (akhlak) bagi yang melanggar tata tertib pondok dari pelanggaran ringan hingga berat bahkan poin abadi yang tak bisa dihapus dengan reward/pencapaian prestasi.

Pendidikan pengasuhan menerbitkan rapor pengasuhan sebagai upaya supervisi hasil pembinaan santri di pesantren.

Aamiin..

“Alhamdulillah, ustadz…ananda sudah banyak perubahan, tidak lagi cerita merasa dibully oleh teman²nya.” Curhat ummu mengekspresikan laporan keseharian ananda. “Terima kasih banyak…ustadz, sudah beri kemudahan fasilitasi pelayanan hp, hampir setiap hari ananda telepon kepada kami selalu riang, tak ada keluhan dibully atau berkelahi dengan temannya. Semoga ananda istiqomah yaa…”
Alhamdulillah, Allah musta’anaamiin.”

Bosan

“Kenapa antum mondar-mandir di depan ustadz? Mau telepon Bunda?” Sapa ustadz mencairkan suasana di hadapannya.
“Boleh ustadz? Hari ini bukan jadwal ana…”
Ustadz tersenyum sambil memberikan hp monokrom dan menyampaikan pesan kepada orangtua untuk menghubungi ananda.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam warahmatullaahi wabarakaatuh…”
“Ada apa nak? Boleh telepon di luar jadwalkah?”
“Boleh bunda, ustadz nawari aku. Boleh…”
“Ada apa?”
“Aku lagi bosan, mau telepon aja…”
“Kamu bisa mengerjakan soal ujian ATS?”
In syaa Allah, Bunda pantau link mtspia…kabari aku kalau ada nilai yang harus remed yaa…Mudah²an tak ada remidi.”
Ustadz tak melanjutkan mendengar percakapan keduanya yang sudah hanyut dalam suasana…momen indah.

Peduli

Peduli adalah sikap memberi perhatian serius dengan tindakan nyata untuk membantu meringankan beban antar sesama dalam kebaikan atau kesulitan secara proaktif, berkeinginan membawa dampak positif bagi orang lain dan lingkungan.
Pesantren mengupayakan kesadaran santri memiliki empati yang kuat terhadap individu dan lingkungan sekitarnya. Berafiliasi mengangkat kemampuan diri ananda dalam membangun karakter menciptakan ruang inspirasi perubahan diri.
Kepekaan itu mencerminkan sikap tolong menolong karena Allah, melahirkan hubungan yang harmonis untuk memperkokoh persatuan kesatuan dan sikap rela berkorban demi sesama. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.

Mandiri

Mandiri adalah sikap tidak bergantung kepada orang lain, belajar mengerjakan sendiri suatu keterampilan hidup dan bertanggung jawab mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik. Secara bertahap efektif dalam mengendalikan diri dan mampu mengelolanya.

Mengasah kemampuan ananda membangun karakternya harus memiliki kemandirian untuk mengenali potensi dan kelemahan dirinya dalam memenuhi kebutuhan sendiri, menjalankan aktifitas belajar dan bergaul, memilih dan menentukan kegiatan yang menunjang bakatnya.

Pesantren sebagai wadah menempa diri ananda akan bersinergi membimbing dan membantu santri memastikan kemampuan dirinya membangun karakter muslim.

Kesetiaan

Setia adalah karakter yang berpegang teguh pada komitmen/janji dengan prinsip tak tergoyahkan dan tanpa mengkhianati.
Kesetiaan merupakan nilai moral mendasar dalam aspek kehidupan yang menanamkan sikap konsisten diri dan rasa tanggung jawab terhadap amanah yang diembannya.
Ini poin penting akhir dari membangun karakter santri yang dikelola pengasuhan berbasis fitrah, akan melahirkan pribadi yang mulia, dapat dipercaya dan mampu komitmen tinggi.
Mari kita dukung kampanyekan membangun karakter muslim sejati sesuai syariat Rasulullah Shalallaahu’alaihi Wasallam.

Kejujuran

Jujur adalah karakter yang sangat penting dalam keseharian kita. Cara mengajarkan kepada ananda itu merupakan peran orangtua sebagai contoh teladan yang baik selalu jujur dalam perkataan dan tindakan dengan beri pujian sebagai penghargaan ketika ananda berani jujur.
Mengajarkan ananda untuk mengakui kesalahan dan segera meminta maaf. Kemudian menjelaskan dampak dari kebohongan agar ananda tidak perlu khawatir tentang menjaga kebohongan. Karena kejujuran membantu membangun kepercayaan diri, mengembangkan integritas (memiliki potensi & kemampuan yang memancarkan wibawa dari kejujurannya) dan karakter yang baik (mengurangi stres).