Salatiga salah satu kotamadya yang letaknya antara Semarang – Solo, kota kecil sebagai tempat transit jalur utara yang terhubung jalan tol hingga ke Jawa Timur.  Adanya jalan tol baru ini mempercepat waktu tempuh jalur darat dari Jakarta hingga Salatiga dengan kendaraan pribadi sekitar 6 – 8 jam, yang semula ditempuh 10 – 12 jam.  Selisih waktu kurang lebih 4 jam.  Bagi pencinta touring dan penikmat kuliner dengan tujuan Jawa Timur sangat layak untuk singgah transit di Salatiga, berlaku rute sebaliknya, disarankan untuk mampir melepas penat setelah berkendara dalam tol, karena Salatiga separuh waktu tempuh perjalanan.

Yang khas dari Salatiga itu adalah Wedang Ronde, di sepanjang jalan kota, penjaja wedang ronde banyak dijumpai dan yang paling masyhur adalah Ronde Sekoteng Jago dan Ronde Mak Pari.  Sangat populer dengan cita rasa, yang dapat menghangatkan badan dan menambah stamina di udara sejuk kota Salatiga.

Sejak tahun 1964 Ronde Sekoteng Jago dikenal sebagai penangkal udara dingin kota Salatiga, yang diadaptasi dari kuliner China, ini disajikan dalam mangkuk porselin China dengan semerbak aroma sensasi rasa jahenya terhirup segar menggoda, memberikan relaksasi dalam otak. Konon nama Jago tersebut dipakai karena awalnya adalah kedai jamu yang bertahan hingga saat ini dari resep turun temurun sampai pada generasi keempat.

Mak Pari merintis Ronde Mak Pari mulai dari angkringan pinggir jalan hingga menjajakan di rumah dengan cita rasa yang melegenda sejak 1947 dan harganya sangat merakyat.  Makanya terdapat 5 cabang di seputar kota Salatiga dengan mempertahankan kualitas rasa yang sedikit dimodifikasi menyesuaikan tren saat ini oleh anak keturunan Mak Pari.

Wedang ronde bukan minuman asli Indonesia, ronde adalah bola-bola bulat dalam bahasa Jawa, awalnya merupakan hidangan khas Tiongkok bernama Tangyuan yang diadaptasi ke dalam kuliner Jawa.

Salatiga, kota kecil yang didominasi etnik China, makanya di perumahan tempat kami tinggal mayoritas beragama Kristen, hanya seperempat warga muslim yang ambil rumah tinggal di perumahan ini.  Pantaslah slogan kota Salatiga adalah Salatiga Hati Beriman, sebagai ciri khas daerah dengan semboyan mewakili kondisi keberagaman agama sesuai Pancasila.

Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) adalah salah satu universitas swasta tertua di Indonesia yang terletak di Salatiga, berdiri sejak 1956, ini membuktikan bahwasanya masyarakat Salatiga mayoritas berasal dari keturunan China, dan selain terdapat Klenteng (sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia) juga bertebaran banyak gereja-gereja yang dibangun menaungi umatnya.

Sudah 7 tahun kami sekeluarga tinggal menetap dan membeli rumah di kota kecil Salatiga, melanjutkan rencana ibu mertua yang sebelum wafatnya, ingin menghabiskan sisa hidup di kampung halamannya ini.  Qodarullah, takdir mendahului impian ibu mertua hingga rencana itu, kami sekeluarga yang melanjutkan menetap tinggal di Salatiga, seperti kampung halaman sendiri.  Sebenarnya kami sekeluarga lahir di Jakarta kota metropolitan, tetapi tak akan pernah menjadikan Jakarta sebagai kampung halaman.  Biarlah momen liburan hari raya akan kami sebut pulang kota yang terhindar dari arus mudik yang macet, karena arus mudiknya terbalik.

Semboyan Salatiga Hati Beriman, mengandung makna: Sehat, Tertib, Bersih, Indah, dan Aman. Ciri khas ini potret lingkungan yang tergambarkan pada keseharian masyarakatnya.  Kerukunan warga tercipta harmonis, secara perekonomian pemerintah daerah Salatiga bisa dikatakan stabil yang artinya kegiatan perekenomian masyarakatnya mencukupi kebutuhan masyarakat sendiri.  Tak ada pengaruh dampak beroperasinya jalan tol lintas Jawa Tengah – Jawa Timur mematikan perekonomian Salatiga.  Tak ada perubahan dan perbedaan sama sekali.

Ada satu lagi yang menonjol adalah keberadaan Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran, tepatnya di Jalan Solo – Semarang Km45, Desa Butuh Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang, yang mencetak generasi Islam yang Robbani (berilmu, beramal, dan berdakwah) mengarahkan masyarakat untuk lebih mengenal Allah, Nabi-Nya, serta keindahan Agama Islam yang lurus, berguna bagi dunia dan agamanya.

Menariknya juga di Salatiga terdapat satu Kafe premium yang dikemas dengan baik menjual lokasi tempat nongkrong yang cukup luas seperti miniatur Kebun Raya Bogor yang berhasil bertahan di Salatiga, namanya Langit Senja Coffee, letaknya di Kutowinangun, Kidul, Tingkir, Salatiga.  Terpencil tapi tak pernah sepi.  Kebanyakan pengunjung yang datang malah dari luar kota seperti Semarang.

Terlepas dari image kota Salatiga sebagai kota pensiunan, Langit Senja Coffee mengusung konsep industri dipadukan dengan alam Salatiga yang asri.  Gaya arsitektur modern nampak dari pintu masuk.  Desainnya dibuat simetris dengan kaca-kaca besar sebagai pengganti tembok-tembok beton.  Dari luar, pengunjung bisa melihat aktifitas barista yang tengah meracik kopi.  Waktu terbaik mengunjungi kafe ini memang sewaktu senja menyapa akan dapat merasakan indahnya langit senja dengan hawa dingin dan semilir angin segar, fenomena alam yang cantik.

Salatiga kota mandiri yang kebutuhan masyarakatnya terpenuhi dari kegiatan perekonomiannya.  Jangan heran ketika putar-putar keliling kota Salatiga banyak ditemukan orang-orang yang menjelang tua yang sehat bersemangat menjalani hidup tak kenal lelah menyongsong waktu senja penuh kedamaian.

Yang unik di Salatiga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *