Bismillah,
Sejarah berulang, tugas baru siap mengukir kisah manusia dalam menggapai ridho ILAHI diiringi dengan doa permohonan, ‘Semoga Allah mudahkan urusan ini.’
يسر الله
آمين
Kacamatanya menulis pendidikan pengasuhan berbasis fitrah dan diselingi ananda yang gemar berpuisi
Bismillah,
Sejarah berulang, tugas baru siap mengukir kisah manusia dalam menggapai ridho ILAHI diiringi dengan doa permohonan, ‘Semoga Allah mudahkan urusan ini.’
يسر الله
آمين
“Kamu tahu ndak, kira-kira yang bakal menjadi calon Presiden Republik Indonesia, siapa yaa?” ujar salah seorang kepada temannya saat aku melintas di hadapan mereka.
“Aku tidak tahu … kedua kandidat calon pemimpin itu sudah bagus. Mereka memenuhi kualifikasi yang sudah ditentukan standarnya, toh …” temannya balas jawab. “Jangan khawatir, siapapun yang terpilih menjadi tanggung jawab rakyat.”
“Masya Allah …” Bangsa ini sudah semakin dewasa, proses pembelajaran demokrasi hingga tahap pemahaman mendekati sempurna. Semoga ke depan kian tumbuh generasi-generasi cendikiawan terbaik mengayomi aspirasi segenap penjuru masyarakat.
Setelah lama menanti, akhirnya keputusan dikumandangkan, reaksinya berbeda-beda: ada yang gembira, galau, bahkan sedih menyelimuti Kampung Kahuripan.
Terasa keputusannya kurang mengapresiasi masyarakat, mungkin ini cara Tuhan mengingatkan warga Kampung Kahuripan untuk lebih bertakwa, agar menghasilkan generasi-generasi yang shaleh/shalehah sebagai kader pemimpin Kahuripan.
Sepertinya hal ini pernah kudengar dari khutbah jumat, bahwasanya kualitas seorang pemimpin itu tercermin dari masyarakatnya.
Tiba di persimpangan, seraya beradu pandang bak kehilangan kendali tanpa arah, sejenak termangu saling menunggu isyarat satu sama lain, terpaku dalam kehampaan.
Tersirat sesuatu penuh tanya: “ada apa denganmu?”
Celingak-celinguk tak bersuara, hanya mata ke kiri ke kanan menanti jawaban pasti. “Siapa yang akan memulai terlebih dahulu?” Hening mencekam …
Tiba-tiba keberanian hadir sesaat siap mengambil keputusan melangkah … Lalu, terhenti tanpa sadar amarah muncul seketika meluap kegelisahan diri: “ada apa denganmu?”
Kala senja menghilang, nampak seberkas sinar mentari yang sedang tenggelam mulai terbenam hingga temaram di ufuk barat, menyongsong magrib waktu berbuka bagi yang menjalankan puasa dengan perasaan penuh suka cita, menerangi lentera kalbu, bersimpuh menghadap Sang Pencipta … pertanda amalan tercatat.
Pesona jingga kian memukau di ketinggian, melepaskan dahaga yang dibawa dari lembah, memancarkan kekuatan nan bergelora menumbuhkan semangat baru untuk meraih bintang.
Petiklah bintang untuk disimpan sebagai goresan pena menggapai cita-cita.
Jingga, jembatan menuju puncak kesuksesan.
Ternyata sekolah di rumah itu didukung oleh Pemerintah Republik Indonesia, namanya SKB (Sekolah Kelompok Belajar) dengan muatan program kejar paket. Dan jangan khawatir insya Allah ini gratis, ada juga yang berbayar boleh pilih mana yang kamu suka, sama halnya sekolah negeri dan swasta.
Bagi yang kelebihan rezeki bisa kombinasikan ikut bimbingan belajar (kursus) atau mengundang guru privat, membuka peluang potensi usaha di dunia pendidikan.
Hari ini aku bermimpi menyekolahkan anak-anak ke home schooling.
Indahnya berbagi …
Tak pernah terbayangkan, seandainya bisa mendapat jaminan diwafatkan pada hari Jumat … Mungkinkah ??? “Sejujurnya itu rahasia ILAHI” lirihku dalam doa berucap.
Negeri ini dinaungi keberkahan yang tiada tara, hingga terkesan dimanjakan oleh alam, dengan keberagaman budaya, dan pesona khatulistiwa.
Puji syukur atas semua karunia rahmat ILAHI yang tak pernah putus … Bagaikan hujan yang turun dari langit begitu deras tak terbendungkan di senja hari ini mengisyaratkan rezeki yang banyak dari Sang Maha Pencipta bagi hambanya yang selalu membutuhkan air kehidupan.
Kutengadahkan kepala dengan mengangkat kedua belah tangan seraya berucap syukur atas limpahan nikmat yang telah kau berikan.
Yaa, Allah … yaa, Tuhan kami … Alhamdulillah atas segala kasihmu yang tak terhingga.
Sebuah kotamadya yang banyak dihuni para pensiunan, dimana julukan tersebut disebabkan bertebarannya para juru parkir usia lansia. Dan selama menetap 7 tahun, kotanya tidak berubah. Yaa … Begitu-gitu saja. Perkembangan terjadi dikarenakan pabrik-pabrik garmen dan kayu meramaikan perindustrian di sini. Mayoritas kaum wanitanya bekerja di pabrik, para lelaki bertani dan beternak.
Yang menjadi perhatian khusus juga karena keberadaan sebuah pondok Pesantren Islam Al Irsyad Tengaran bermanhaj salaf, yang letaknya diperbatasan Kabupaten Semarang dengan Kota Salatiga, ikut mengharumkan kotamadya ini.
Masih teringat Mbah Akung semasa hidupnya, beliau pernah menyampaikan, “halamanmu … ditanami pohon agar dikemudian hari bermanfaat sebagai amal jariyyah yang dapat dinikmati anak cucumu, saudara, dan tetanggamu !” pesannya ketika masih hidup. Saat itu Mbah Akung memiliki tangan yang dingin, setiap menanam suatu pohon/bunga selalu berbuah dan berbunga. Setelah tiada, sisa peninggalannya yang masih kami nikmati yaitu buah yang ditanamnya dahulu. Sedangkan bunga Anggrek, Mawar, dan Melati … gugur bersama kepergiannya.
Sejak itu aku mulai menabung kebaikan, menanam benih-benih sebagai lahan yang berguna bagi generasi selanjutnya. Semoga bermanfaat.