“Ustadz sudah tahu belum raketnya Fulan patah?” Tanya Ali, disambut geleng kepala ustadz. Spontan Ali menutup mulutnya merasa tak nyaman cerita mendahului pemilik sang raket.
Ustadz tersipu melihat Ali pergi melengos menghindari diri dari pertanyaan ustadz selanjutnya. “Ali..Ali..belum selesai bicara sudah pergi.” Selang waktu tak lama kemudian fulan datang ingin menggunakan fasilitas pelayanan hp asrama.
“Kenapa raketmu?”
“Patah ustadz..” Fulan nampak kecewa melanjutkan, “Dia tidak mau ganti raket Ana, ustadz…malah canda. Jangan nangis yaa..” keluhnya.
“Yaa, sudah…antum ceritakan kejadiannya pada orangtua. In syaa Allah ana akan berikan nomor orangtuamu kepadanya untuk mediasikan sesama walsan yaa..”
Selesai fulan telpon kepada orangtua menjelaskan, “Ustadz, Abi bilang tak usah diganti. In syaa Allah dibelikan lagi.” Sekitar 3 jam kemudian Abu Fulan wa, “Ustadz…walsan yang merusak raket ananda in syaa Allah akan mengganti raket langsung dikirim ke pondok. Ana sudah menolak, katanya sebagai pembelanjaran untuk anaknya arti tanggung jawab.”
Alhamdulillah…done
