Aku teringat dahulu pernah ayah temanku semasa SMA menyampaikan kepada anak-anaknya, “Ayah ingin Mas Nana menjadi menantu Ayah.”  Semua yang mendengar saling beradu pandang, seperti sebuah pertanyaan baru saja hadir di telinga kedua adik temanku itu, “Siapa yang mencintai Mas Nana?”

“Mas Nana memang bukan orang Jawa, tetapi sikapnya seperti orang Jawa.  Ayah ingin Diah atau Dini menentukan pilihan ini.” Pertanyaan yang menjadi Pe-eR lama, tak bisa langsung dijawab oleh kedua anak gadisnya.  Aku pun ikut diberitahu oleh temanku, maksud keinginan ayahnya.

Masih terlalu dini membicarakan perjodohan itu, aku hanya tertunduk malu harus pilih yang mana.  Bingung tak tahu mana yang harus dipilih.  Keduanya cantik di mataku.  Begitu sempurna.

Aku hanyut dalam kenangan, saat menghadiri pernikahan Agung dan Dini yang bisa aku hadiri bersama istriku di sebuah gedung resepsi pernikahan.  Ketika aku menaiki panggung pengantin untuk mengucapkan salam ‘selamat menempuh hidup baru.’  Ayahnya Dini memelukku dan berbisik menyampaikan sesuatu kepadaku, “Kamu tidak menjadi menantuku, karena kamu memilih mertua yang lebih kaya dariku.” Sambil menepuk pundakku.

Jodohku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *