Dahulu kami sekeluarga setiap pekan tamasya ke toko buku, sekedar baca buku atau mencari kesenangan gali cakrawala pengetahuan, menambah wawasan dari aneka buku yang dibaca, dan sekarang lambat laun terasa jauh dari toko buku, semenjak segala sesuatu lebih mudah menanyakan ke Mbah Google, bagaimana misalkan mulai tahun depan 2021 penyelenggaraan UN ditiadakan, otomatis buku-buku yang bertemakan seleksi ketuntasan UN akan serempak ditarik dari peredaran toko buku dan akan semakin longgar koleksinya, kasihan nasib toko buku yang masih bertahan, mungkinkah mengalami gulung tikar?

Krisis buku tercipta disebabkan perkembangan teknologi informasi digital yang semakin mudah dicari melesat meninggalkan peradaban kertas yang semakin ketinggalan zaman.  Bagaimana nasib para penulis buku, akankah sanggup menghadapi era digital ini? Walaupun beberapa penulis beralih menulis buku indie untuk memenuhi kebutuhan di kalangan komunitasnya.

Tetaplah semangat menulis, walau diterjang badai.  Ingatlah selalu semboyan Tut Wuri Handayani.

Krisis Buku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *