Hari itu tiba tanpa aba-aba, langit terasa lebih berat dari biasanya, langkah para santri tertahan di ambang doa, wajah tegang menyimpan ribuan tanya.
Di hadapan kami terbentang segelintir kertas putih, namun terasa lebih tajam dari pedang, setiap nomor seperti nadi yang berdenyut, menentukan arah pulang dari mimpi-mimpi panjang.
Pulpen bergetar di antara jari yang gemetar, keringat jatuh bersama harap yang tak sempat terucap, seolah hidup dan mati berdiam di tiap baris soal, seolah masa depan bersembunyi di balik setiap jawab.
Ada doa ibu di setiap tarikan napas, ada amanah guru di setiap tatapan, kami bertarung bukan hanya dengan logika, tapi juga dengan takut yang diam-diam menikam.
Waktu berjalan tanpa peduli, detik menjadi palu yang memukul dada, hingga akhirnya kertas pun dikumpulkan, dan kami hanya bisa berserah pada Yang Maha Kuasa.
Sebab kami tahu, ujian bukan sekadar angka dan nilai, tapi tentang sabar yang diuji, tentang hati yang belajar ikhlas dan tak menyerah.
Kindi 4/12/25
